Misi Dagang Perdana 2026, Transaksi Jatim–Jateng Tembus Rp3,15 Triliun

oleh -964 Dilihat
oleh
Foto: Dok Humas Pemprov Jatim

KILASJATIM.COM, Semarang – Misi Dagang dan Investasi Perdana 2026 antara Jawa Timur dan Jawa Tengah langsung mencatat hasil besar. Kegiatan yang dipimpin Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Semarang, Kamis (29/1/2026), membukukan komitmen transaksi senilai Rp3,152 triliun.

Misi dagang ini mempertemukan pelaku usaha kedua provinsi melalui skema business matching. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, jajaran OPD, serta perwakilan asosiasi dunia usaha seperti Kadin, HIPMI, IWAPI, REI, dan Gekrafs.

Khofifah menilai misi dagang menjadi instrumen strategis untuk memperkuat konektivitas perdagangan antarwilayah sekaligus memperluas pasar domestik.

“Terlihat kebutuhan kedua daerah saling melengkapi. Jawa Timur membutuhkan produk Jawa Tengah, dan sebaliknya,” ujar Khofifah.

Hingga sore hari, nilai transaksi tercatat terdiri dari Jatim Jual sebesar Rp2,759 triliun, Jatim Beli Rp296,86 miliar, serta Jatim Investasi Rp96 miliar.

Produk unggulan Jawa Timur yang diperdagangkan mencakup sektor peternakan, pangan, perikanan, industri pengolahan, perkebunan, hingga kehutanan. Komoditas tersebut antara lain daging ayam dan sapi, beras, gula kristal putih, kopi, susu, pakan ikan, seafood, tekstil, hingga pupuk organik cair.

Sementara itu, dalam skema Jatim Beli, Jawa Timur menyerap komoditas dari Jawa Tengah seperti kayu bulat, tembakau, cengkeh, tepung tapioka, gula merah tebu, botol plastik, serta produk UMKM pangan. Pola transaksi dua arah ini dinilai mampu mengoptimalkan arus distribusi antarwilayah.

Sepuluh transaksi terbesar dalam misi dagang ini didominasi sektor peternakan dengan nilai mencapai Rp1,13 triliun per tahun. Selain itu, tercatat kerja sama gula kristal putih senilai Rp300 miliar per tahun, industri hasil tembakau Rp192 miliar per tahun, serta sektor perikanan dan pangan bernilai ratusan miliar rupiah.

Baca Juga :  Khofifah & Ribuan Pelajar Jatim Pecahkan Rekor MURI, Jahit Bendera 80.000 Meter untuk HUT RI

Khofifah menyebut penguatan perdagangan antarwilayah menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi Jawa Timur. Pada triwulan III 2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,22 persen secara tahunan, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 5,04 persen.

Dengan PDRB ADHB mencapai Rp867,39 triliun, Jawa Timur berkontribusi 14,54 persen terhadap PDB nasional dan 25,65 persen terhadap PDRB Pulau Jawa. Provinsi ini juga mencatat surplus perdagangan antarwilayah terbesar nasional sebesar Rp209 triliun.

Adapun nilai perdagangan Jatim–Jateng tercatat Rp47,58 triliun, dengan surplus Jawa Timur sebesar Rp9,05 triliun.

Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemprov Jawa Timur telah menggelar 49 misi dagang domestik di 29 provinsi dengan total komitmen transaksi Rp30,52 triliun, serta enam misi dagang luar negeri dengan potensi transaksi Rp5,896 triliun.

“Kuncinya sinergi dan kolaborasi agar pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan bersama,” pungkas Khofifah.

Misi dagang ini juga ditandai dengan penandatanganan sejumlah kerja sama antar-OPD dan organisasi dunia usaha sebagai penguatan kolaborasi lintas daerah.(FRI)