KILASJAIM.COM, Surabaya – Kehadiran delegasi pemenang program MLBB Goes to School asal Surabaya di Arena M7 World Championship menjadi penanda penting transformasi peran gim dalam dunia pendidikan. Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda rekreatif, melainkan pembuktian bahwa gim dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan karakter bagi siswa.
Ekosistem Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) kini mengalami pergeseran makna. Gim yang selama ini kerap dipandang negatif, mulai dimanfaatkan sebagai media pembelajaran karakter bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Program ini diinisiasi oleh Moonton Games melalui kolaborasi dengan sekolah serta pemerintah daerah. Inisiatif tersebut sekaligus menepis stigma bahwa gim seluler hanya berdampak buruk bagi perkembangan anak.
Di Surabaya, MLBB justru menjadi jembatan komunikasi baru antara guru dan siswa. Peran ini dijalankan melalui program Teacher Ambassador, yang membekali pendidik dengan pendekatan edukatif berbasis gim.
Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, Erina Tan, menjelaskan bahwa tujuan utama program bukan mencetak atlet esport profesional, melainkan menanamkan nilai kehidupan nyata melalui medium yang dekat dengan dunia anak-anak.
“Fokus kami bukan menjadikan semua anak pemain profesional, tetapi memberi mereka kebebasan memilih sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur. Lewat gim, anak belajar menerima kekalahan, pentingnya kerja sama tim, dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan. Ini soft skill penting untuk menghadapi dunia nyata,” ujar Erina, Minggu (25/1/2026).
Peran guru dinilai sangat krusial dalam menyampaikan nilai-nilai tersebut. Gim dijadikan bahasa bersama antara pendidik dan siswa agar pesan pendidikan lebih mudah diterima.
Melalui program Teacher Ambassador, para guru dibekali pemahaman nilai Pray, Respect, Peace Out yang menekankan etika bermain, pengendalian emosi, serta sikap saling menghargai. Respons tenaga pendidik di Surabaya pun terbilang positif, tercermin dari peningkatan jumlah peserta guru yang semula 50 orang menjadi 328 orang.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menilai pelarangan gawai bukan solusi realistis di era digital. Menurutnya, pendampingan merupakan pendekatan paling efektif dalam mengarahkan penggunaan teknologi oleh anak.
“Kalau hari ini kita tidak bisa lepas dari handphone, maka anak-anak tidak bisa sekadar dilarang, tetapi harus didampingi. Jika tidak ada pendampingan, hasilnya tidak akan baik,” tegas Febrina.
Ia menyebut MLBB dapat menjadi pintu masuk bagi guru untuk memantau perilaku siswa, sekaligus mengarahkan penggunaan gawai agar tetap sehat dan terkontrol.
“Moonton datang menawarkan edukasi sehat, bukan sekadar mengajarkan cara bermain. Kami meminta agar guru diberi materi bagaimana mendampingi siswa menggunakan gawai secara bijak. Di dalam gim ada pembelajaran emosi dan kerja sama, itu yang kami ambil,” tambahnya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Program MLBB Goes to School dinilai mampu menyeimbangkan antara pendidikan formal dan hobi siswa.
“Temanya sangat tepat, ‘Belajar dulu, baru mabar’. Artinya, di usia belajar anak-anak tetap memprioritaskan pendidikan, namun tetap diberi ruang untuk beraktivitas tim melalui gim,” ujar Hadi.
Ke depan, program ini direncanakan akan diperluas ke provinsi lain di Pulau Jawa dengan tujuan menciptakan lingkungan bermain yang aman, sehat, dan edukatif bagi generasi muda.(FRI)
