KILASJATIM.COM, Surabaya – Pemerintah akan menggratiskan layanan pencegahan dan pengobatan selama 15 hari setelah masyarakat menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) mulai 2026. Kebijakan ini menjadi perluasan program CKG yang sebelumnya hanya berfokus pada skrining.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, layanan gratis tersebut berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia pada 15 hari pertama pasca pemeriksaan. Setelah itu, pembiayaan akan dilanjutkan melalui skema BPJS Kesehatan bagi peserta aktif.
“15 hari pertama gratis untuk seluruh masyarakat. Selanjutnya untuk peserta BPJS tetap gratis sesuai skema jaminan kesehatan,” kata Budi dalam keterangannya yang dikutip, Sabtu (24/1/2026).
Budi menjelaskan, mulai 2026 CKG tidak lagi berhenti pada tahap deteksi dini, tetapi diperluas hingga mencakup tindak lanjut medis agar masyarakat yang terdeteksi memiliki akses pengobatan lebih cepat. Ia juga mengimbau warga yang belum aktif sebagai peserta BPJS Kesehatan untuk segera mengaktifkan kepesertaan.
Di sisi pelayanan, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes Murti Utami memastikan obat pencegahan dan penanganan penyakit akan tetap diberikan gratis di puskesmas selama masa 15 hari tersebut, tanpa melihat status kepesertaan BPJS maupun keterdaftaran fasilitas kesehatan.
Ia menambahkan, perpindahan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) kini semakin mudah karena dapat dilakukan melalui aplikasi Mobile JKN.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi menyebut hipertensi dan diabetes menjadi prioritas penanganan dalam program ini. Kedua penyakit kronis tersebut dinilai berisiko memicu komplikasi berat sehingga obat akan langsung diberikan, termasuk kepada masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS.
Sejalan dengan perluasan layanan, Kemenkes menargetkan 136 juta warga mengikuti program CKG pada 2026, hampir dua kali lipat dibanding capaian 2025 yang mencapai sekitar 70 juta peserta. Target ini merupakan bagian dari mandat Presiden Prabowo Subianto dalam RPJMN dan sejalan dengan target pembangunan kesehatan nasional.
Sepanjang 2025, program CKG telah menjangkau 70 juta masyarakat di 38 provinsi dengan dukungan lebih dari 10.200 puskesmas aktif. Data Kemenkes mencatat partisipasi perempuan masih lebih tinggi dibanding laki-laki, sementara kelompok bayi baru lahir menjadi peserta terbanyak berdasarkan persentase cakupan.
Dengan perluasan layanan pasca-skrining dan peningkatan target peserta, pemerintah menargetkan program CKG tidak hanya mendeteksi penyakit lebih dini, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan dan menekan beban penyakit kronis di masyarakat.(cit)




