Dinas Pendidikan Bondowoso Dorong Kebangkitan Tari Remo Sutinah Lewat Sekolah

oleh -984 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Upaya menjaga warisan budaya daerah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Salah satunya melalui penguatan kembali Tari Remo Sutinah, tarian khas Bondowoso yang sarat nilai sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat setempat.

Tari ini merupakan hasil cipta almarhum Sutinah, seniman lokal yang dikenal memiliki kepekaan tinggi terhadap realitas sosial Bondowoso. Berangkat dari pengembangan Tari Remo, karya tersebut menampilkan ekspresi perjuangan, keteguhan, dan dinamika hidup masyarakat Bondowoso pada masanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten
Bondowoso, Taufan Restuanto, menyampaikan bahwa Tari Remo Sutinah memiliki kekhasan tersendiri dibanding Tari Remo dari daerah lain, sehingga penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda.

“Ini adalah identitas budaya Bondowoso. Di dalamnya ada cerita sejarah dan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Karena penciptanya sudah tidak ada, maka menjadi tugas bersama untuk menjaga keberlanjutannya,” kata Taufan, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, Tari Remo Sutinah yang juga dikenal sebagai Tari Remo khas Bondowoso, lahir dari pengalaman batin dan pengamatan sosial Sutinah sebagai seorang seniman pancet. Nilai-nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam rangkaian gerak, irama, dan ekspresi tari yang memiliki makna mendalam.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten
Bondowoso, Taufan Restuanto

 

Sebagai langkah konkret, Dinas Pendidikan Bondowoso menggandeng MGMP Seni Budaya SMP untuk mengintegrasikan Tari Remo Sutinah dalam kegiatan pembelajaran. Sejak Desember 2025, materi tarian ini mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah, disusul dengan pelaksanaan workshop bagi siswa SMP se-Kabupaten Bondowoso.

Dalam kegiatan tersebut, setiap sekolah mengirimkan lima siswa yang didampingi guru seni budaya untuk mempelajari teknik dan filosofi Tari Remo Sutinah secara langsung. Hasil pembelajaran itu rencananya akan dipentaskan bersama pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.

Baca Juga :  Film Horor Psikologis ‘Lift’ Suguhkan Teror Mencekam di Ruang Sempit

“Pelestarian budaya harus dilakukan dengan praktik langsung, bukan hanya teori. Anak-anak perlu mengalami dan merasakan sendiri budayanya agar tumbuh rasa memiliki,” tegas Taufan.

Melalui pendekatan pendidikan dan ruang ekspresi publik, Dinas Pendidikan berharap Tari Remo Sutinah tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas kultural Bondowoso yang terus diwariskan lintas generasi.(wan)

No More Posts Available.

No more pages to load.