KILASJATIM. COM, Malang – “Menurut keyakinan saya”. Kalimat yang kerap diucapkan Pandji Pragiwaksono, dalam stand-up comedy bertajuk Mens Rea yang tayang di Netflix menjadi menarik dengan jokes segar. Menyentil tokoh politik dari presiden-wakilnya. Kabinet yang gendut, kebijakan yang kurang berpihak pada rakyat, serta kriitik pada ormas NU-Muhammadiyah yang menerima konsesi tambang. Pencucian uang oleh artis yang semuanya disampaikan dengan kalimat sesuai keyakinan dia (Pandji). Hingga berbuntut pada laporan ke polisi.
Stand up comedy yang dilakukan Pandji bukan hanya menuai kritik dari orang yang tidak sepaham. Atau orang-orang yang merasa tersinggung dengan materi pertunjukan tersebut. Mereka menuduh Pandji memanfaatkan agama, melukai golongan NU dan Muhammadiyah hingga menuai protes dan pelaporan polisi. Sedang dalam kenyataan dan sejumlah berita menyampaikan jika golongan tersebut terlibat dalam perusahan tambang, bahkan salah seorang Ketua Ponpes di Malang dikabarkan menjadi direktur tambang nikel di Raja Ampat.
Jadi, tidak salah penonton Mens Rea menyambutnya dengan gelak tawa. Sebab, yang disampaikan dalam pertunjukan di ruang tertutup itu benar adanya, dan bisa dilacak melalui mesin pencari google. Bentuk tawa yang dilakukan bersama pun bukan hal yang salah. Tapi bentuk penerimaan, sekalipun komedi itu satir. Setiap orang berharap mendapat hiburan dari rutinitas, dari ke-setresan yang dialami setiap hari. Dalam dunia kerja maupun rumah.
Jika ada tuduhan apa yang dilakukan Panji adalah ujaran kebencian, itu menjadi sangat menggelikan. Sebab yang disampaikan adalah sentilan, kritik atas apa yang terjadi dan semua mengetahui itu. Bukan hanya itu, pria berkepala plontos ini juga menyampaikan soal meninggalnya siswa SMK di Semarang oleh aparat dan sampai saat ini belum ada kejelasan. Sementara masyarakat butuh informasi yang pasti demi meningkatkan rasa percaya pada aparat kepolisian.
Mengenai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disampaikan tampilannya seperti orang mengantuk. Sebenarnya itu sebuah sindiran satir akan visual penampilan seseorang. Sebab tidak bisa dipungkiri, masyarakat Indonesia sering kali melihat, memilih dan menilai seseorang hanya dari penampilan visual saja. Bukan kemampuan intelektual atau kemampuan kerjanya. Menurut pandangan saya secara pribadi, ini adalah pelajaran berharga, agar kita tidak terjebak pada visual semata.
Hampir semua orang yang di roasting Pandji adalah orang yang menjabat di pemerintahan. Dalam salah satu tayangan di instagram disampaikan jika, kritik itu dilakukan pada orang yang saat ini menjabat di pemerintahan. Terlibat dalam kebijakan dan menerima gaji dari hasil pajak rakyat. Khusus untuk mantan Menteri Penerangan, Harmoko yang menjabat pada masa pemerintahan Soeharto. Disampaikan jika, masa itu ada larangan membuat lagu melow dan dramatis dengan alasan, musik bisa mempengaruhi jiwa seseorang yang patah hati, jadi sulit bangkit. Namun, disitulah letak tantangan sebagai seniman, semakin dibatasi semakin kreatif seperti lagu Hati Yang Luka dinyanyikan Betharia Sonata rilis pada 1987, menceritakan KDRT bisa menjadi lagu dan diterima.”…Lihatlah tanda merah di pipi bekas gambar tanganmu, sering kau lakukan bila kau marah…”.
Sementara dalam kanal YouTube Mahfud MD Official pada Jumat (9/1/2026) Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan RI menyampaikan apa yang dilakukan komika dalam Mens Rea tidak dapat dipidanakan. Sebab Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru, baru berlaku pada 2 Januari 2026. Sementara tayangan Mens Rea atau terjadinya pengucapan dalam stand up comedy dilakukan pada Desember 2025.
“Pandji tenang. Anda tidak akan dihukum. Mas Pandji tenang nanti saya yang bela,” kata Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) ini.
Pandji sendiri dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Rizki Abadul Rahman Wahid, Presidium Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU), pada Rabu (7/1/2026). Terkait materi dalam pertunjukan komedi bertajuk Mens Rea, yang dianggap memyebabkan kegaduhan, menghina dan berpotensi memecah belah masyarakat.
Sedang menurut keyakinan saya. Materi yang disampaikan Pandji dalam pertunjukan berbayar tersebut, adalah hal biasa yang menjadi bahan rasan-rasan (obrolan) di warung kopi. Bedanya komika itu lebih berani mengangkatnya dalam sebuah pertunjukan. Masih dalam keyakinan saya, semua orang yang hadir pun membenarkan ucapan sang komika, hingga bisa merayakan bersama dalam gelak tawa berjamaah. (TQI)



