Komunitas Sarka Space Sayangkan Penutupan Wisata Kalipait Bondowoso Akibat Sampah

oleh -820 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Komunitas pemerhati lingkungan Sarka Space menyayangkan kebijakan penutupan kawasan wisata Kalipait di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, yang dilakukan akibat permasalahan sampah. Penutupan tersebut dinilai mencerminkan lemahnya sistem pengelolaan lingkungan yang masih bersifat reaktif dan belum menyentuh solusi mendasar.

Sarka Space merupakan komunitas yang fokus pada pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik, di Bondowoso. Komunitas ini dikenal dengan sebutan “Roma Sarka Bondowoso” dalam bahasa Madura, yang berarti rumah sampah Bondowoso.

Koordinator Komunitas Sarka Space Bondowoso, Ahmad Quraisy, menilai penutupan wisata Kalipait justru menunjukkan bahwa persoalan lingkungan masih dipahami sebatas upaya menyembunyikan masalah, bukan menyelesaikannya secara struktural.

“Penutupan ini adalah bukti bahwa pengelolaan lingkungan masih dipahami sebagai urusan menutup masalah, bukan menyelesaikannya. Ketika sampah tak mampu diurus, yang dikorbankan justru ruang publik dan masyarakat,” ujar Quraisy saat dikonfirmasi, Jumat (2/1/2026).

Ia menegaskan, sampah tidak akan hilang hanya karena sebuah lokasi ditutup. Menurutnya, kebijakan tersebut justru memindahkan persoalan dari satu tempat ke tempat lain tanpa penyelesaian yang berkelanjutan.

“Sampah tidak hilang karena lokasi ditutup. Ia hanya dipindahkan, seperti tanggung jawab yang terus dilempar dari satu kebijakan instan ke kebijakan instan berikutnya,” jelasnya.

Quraisy menilai situasi ini semakin krusial karena Kabupaten Bondowoso tengah berada dalam tahapan penting revalidasi Geopark. Dalam proses tersebut, pengelolaan lingkungan, tata kelola sampah, serta keterlibatan masyarakat menjadi indikator utama penilaian.

“Geopark bukan hanya soal keindahan geologi, tetapi tentang bagaimana sebuah wilayah mengelola dampak aktivitas manusia secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,” katanya.

Ia menambahkan, penanganan sampah yang bersifat reaktif, ditambah kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bondowoso yang disebut mendapat “kartu merah”, berpotensi mengirimkan sinyal negatif dalam proses revalidasi Geopark.

Baca Juga :  Banyuwangi Olah Sampah Rumah Tangga Jadi Bahan Bakar Industri Semen

“Ini bukan semata soal citra, tetapi konsistensi antara narasi pariwisata berkelanjutan dengan praktik kebijakan di lapangan,” tegas Quraisy.

Menurutnya, penutupan Kalipait bukanlah solusi, melainkan pengakuan bahwa pemerintah daerah belum mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang kuat.

“Hari ini Kalipait, besok entah di mana lagi. Selama sampah diperlakukan sebagai alasan penutupan, bukan sebagai objek pengelolaan, siklus ini akan terus berulang,” ujarnya.

Quraisy juga mengaku prihatin karena selama ini Sarka Space kerap dilibatkan dalam diskusi terkait surat edaran lingkungan dan krisis iklim bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Bappeda Bondowoso. Namun, penutupan Kalipait dinilai dilakukan tanpa komunikasi yang memadai.

“BKSDA tanahnya memang masih wilayah Bondowoso. Seharusnya ada komunikasi sebelum penutupan,” katanya.

Meski demikian, Sarka Space menyatakan masih membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menangani persoalan sampah secara bersama-sama.

“Kami sering dianggap butuh anggaran, padahal sebenarnya tidak. Kami sudah membuktikan bisa berjalan tanpa bantuan pemerintah, ikut lomba, dan mengajukan program. Yang kami butuhkan adalah kolaborasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menutup kawasan air terjun Kalipait dari kunjungan wisatawan. Meski belum dikelola secara resmi sebagai objek wisata, lokasi tersebut kerap dikunjungi karena keindahan air terjun asam yang mengalir dari Danau Kawah Ijen.

Kalipait sendiri merupakan salah satu situs geologi dalam kawasan Ijen UNESCO Global Geopark Kabupaten Bondowoso–Banyuwangi.

Koordinator RKW 15 Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Rusdi Santoso, menjelaskan penutupan dilakukan karena sering ditemukannya sampah yang ditinggalkan pengunjung.

“Keluhan utamanya sampah bawaan pengunjung, makanya sementara ditutup,” ujar Rusdi saat dikonfirmasi, Sabtu (27/12/2025).

Ia menyebutkan, penutupan akan berlangsung hingga sarana dan prasarana pendukung serta petugas pengawasan di lokasi dinyatakan siap.

Baca Juga :  Pertamina Edukasi Pengolahan Sampah untuk Siswa Tuban: Wujudkan Generasi Peduli Lingkungan

“Ditutup sampai sarana prasarana pendukung dan petugas yang stanby tersedia,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Bondowoso, Tantri Raras Ayuningtias, menegaskan bahwa secara status Kalipait masuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA), sehingga pengelolaannya tidak dapat disamakan dengan destinasi wisata umum.

“Kawasan itu adalah area konservasi. Jadi tidak serta-merta menjadi tujuan wisata. Jika dibuka, harus sesuai dengan kebijakan BKSDA,” ujarnya.

Tantri juga mengungkapkan bahwa Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso bersama BUMDes Kalianyar sempat mengajukan diri sebagai pengelola kawasan. Namun hingga kini belum ada kesepakatan resmi terkait pengelolaan Kalipait.(wan)