Kasus Perobohan Rumah Nenek Elina Disorot Pemkot Surabaya, Wali Kota Tegaskan Tak Ada Ruang Premanisme

oleh -1080 Dilihat
Foto: dok kilasjatim

KILASJATIM.COM, Surabaya – Kasus perobohan rumah milik Elina Widjajanti (80), warga Dukuh Kuwukan, Surabaya, yang diduga dilakukan oleh oknum organisasi masyarakat (ormas), menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Surabaya. Aksi perusakan rumah hingga rata dengan tanah tersebut viral di media sosial dan memicu reaksi keras dari Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.

Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri itu menegaskan tidak ada ruang bagi tindakan semena-mena dan premanisme di Kota Pahlawan. Ia memastikan hukum harus ditegakkan tanpa kompromi agar seluruh warga merasa aman tinggal di Surabaya.

Menurut Eri Cahyadi, kasus perobohan rumah nenek Elina sebenarnya telah ditangani aparat penegak hukum sebelum video kejadian tersebut viral. Pihak kecamatan setempat disebut telah melaporkan kasus tersebut ke Polda Jawa Timur.

“Kejadian ini sudah ditangani Polda Jawa Timur. Sebelum viral sudah dilaporkan karena sudah ditangani pihak kecamatan. Saya secara pribadi akan berkoordinasi dengan Polda agar masalah ini menjadi atensi khusus dan segera diselesaikan. Harus ada kejelasan hukum karena yang salah ya, harus dihukum,” tegas Eri Cahyadi, Sabtu (27/12).

Sebagai langkah jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa, Pemerintah Kota Surabaya bersama TNI dan Polri berencana membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-Preman. Satgas tersebut akan melibatkan aparat keamanan serta tokoh-tokoh dari berbagai suku yang ada di Surabaya.

“Insyaallah kita buatkan tempat di Pemkot Surabaya untuk Satgas Anti-Preman. Surabaya harus aman. TNI, Polri, dan seluruh elemen suku akan bergabung. Siapa pun yang melakukan premanisme akan ditindak dan dihilangkan dari kota ini,” ujar Eri.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga berencana mengumpulkan seluruh ketua ormas dan tokoh suku pada malam tahun baru atau awal Januari 2026. Pertemuan tersebut bertujuan untuk menyamakan visi dan komitmen bersama dalam menjaga kondusivitas dan keamanan Kota Surabaya.

Baca Juga :  Penculik Santri Pondok Metal Ternyata Salah Sasaran

Di sisi lain, Pemkot Surabaya saat ini tengah melakukan asesmen terhadap kebutuhan mendesak nenek Elina. Selain bantuan fisik berupa tempat tinggal sementara maupun permanen, Eri menekankan pentingnya pemulihan kondisi psikologis korban pascakejadian.

“Yang paling penting adalah psikisnya. Surabaya boleh jadi kota besar, tapi jangan pernah kehilangan empati terhadap sesama. Kita harus saling menjaga dan menguatkan,” pesannya.

Eri Cahyadi juga mengimbau masyarakat agar tidak terpancing emosi dan tidak melakukan aksi anarkis atau benturan antarwarga sebagai reaksi atas peristiwa tersebut. Ia meminta warga mempercayakan sepenuhnya penanganan kasus kepada pihak kepolisian, sembari tetap mengawal proses hukum hingga tuntas.

“Ayo warga Surabaya, kita saling menjaga dan mengawal proses hukumnya hingga tuntas dan Nenek Elina mendapatkan keadilan,” pungkas Eri.(den)

No More Posts Available.

No more pages to load.