Surabaya Pilih Optimalisasi Pompa daripada Bangun Tanggul Laut

oleh -775 Dilihat
oleh
Foto: Dok Humas Kota Surabaya/kilasjatim

KILASJATIM.COM, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya menunda rencana pembangunan tanggul laut sebagai solusi jangka panjang pengendalian banjir rob. Untuk saat ini, Pemkot memilih memaksimalkan infrastruktur yang sudah ada—mulai dari rumah pompa, pintu air, hingga bozem—yang dinilai lebih realistis dan bisa langsung berdampak.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Syamsul Hariadi, mengatakan pembangunan tanggul laut membutuhkan proses panjang dan tidak bisa segera direalisasikan. Karena itu, upaya pengendalian banjir rob sementara difokuskan pada optimalisasi jaringan pengendali air.
“Penanganan banjir rob memang perlu tanggul laut lengkap dengan pintu dan pompa air, tetapi saat ini kami maksimalkan infrastruktur yang sudah ada,” ujarnya, Senin (8/12/2025).

Menurut Syamsul, wilayah timur Surabaya relatif lebih siap karena sudah memiliki fasilitas pengendali air yang lengkap. Mulai dari pintu air hingga rumah pompa yang berfungsi menahan maupun membuang air laut saat pasang. “Insyaallah banjir rob di timur bisa kami minimalisir,” ujarnya.

Namun kondisi berbeda terjadi di wilayah barat. Daerah seperti Kali Krembangan, Kalianak, dan Kali Sememi belum dilengkapi pintu air maupun rumah pompa sehingga masih rentan banjir rob.
“Kami sudah agendakan pembangunan rumah pompa di tiga sampai empat sungai yang menuju laut. Di wilayah barat ada sekitar lima akses ke laut yang perlu diproteksi,” kata Syamsul.

Saat ini, baru kawasan Balong dan Kandangan di Surabaya barat yang memiliki pompa air. Tiga lokasi lain—Asemrowo, Kalianak, dan Tambak Langon—akan menjadi prioritas pembangunan pintu air dan rumah pompa berikutnya.

Syamsul menegaskan penundaan tanggul laut dilakukan karena kebutuhan tiap kawasan pesisir berbeda. Beberapa wilayah barat sebenarnya sudah memiliki tanggul alami atau buatan yang berfungsi menahan air laut. “Jadi tidak semua wilayah butuh tanggul laut baru,” jelasnya.

Baca Juga :  Pembebasan Lahan Flyover Taman Pelangi Bertahap, Enam Persil Cair Rp 16 Miliar

Ia menambahkan sebagian wilayah barat juga sudah ditinggikan oleh pihak pengembang dan kawasan pergudangan, sehingga Pemkot tinggal melengkapi dengan infrastruktur pengendalian air yang memadai.

Selain pompa dan pintu air, bozem juga berperan penting sebagai penampungan sementara saat hujan bersamaan dengan pasang air laut. Surabaya memiliki tiga bozem besar—Bratang, Kalidami, dan Morokrembangan—masing-masing berkapasitas hingga 80 ribu meter kubik.
“Bozem menahan air sementara. Saat surut, air bisa mengalir keluar, dibantu pompa agar lebih cepat,” kata Syamsul.

Menurutnya, optimalisasi pompa tetap menjadi kunci agar seluruh sistem bekerja efektif, terutama menghadapi curah hujan tinggi dan potensi rob yang meningkat di musim penghujan. (cit)

No More Posts Available.

No more pages to load.