PCU Jadikan Seni Pertunjukan Sebagai Arah Baru Pembangunan Kota Kreatif

oleh -391 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Seni pertunjukan seperti teater kini menghadapi ancaman serius akibat derasnya arus digitalisasi. Menyadari urgensi tersebut, Petra Christian University (PCU) melalui Petra Theatre dari Program English for Creative Industry (ECI) menggandeng Institut Français Indonésie (IFI Surabaya) untuk menggelar Simposium Nasional tentang masa depan kota kreatif. Acara ini berlangsung pada Jumat (5/12/2025) di Matthew Conference Hall lantai 10 PCU.

Ketua acara, Meilinda, menegaskan bahwa forum ini dirancang untuk merumuskan arah baru penguatan seni pertunjukan sebagai motor ekonomi kreatif kota. Ia menyatakan, “Forum ini secara tajam mendiskusikan bagaimana teater sebagai mesin memori dapat bertahan dan menjadi motor ekonomi baru melalui inovasi. Dengan kolaborasi akademisi, pemerintah kota, dunia usaha, dan komunitas, simposium ini menjadi ruang strategis untuk menyusun peta jalan yang memastikan seni pertunjukan tidak hanya bertahan, tetapi memimpin pembangunan Surabaya sebagai kota kreatif.”

Simposium ini menghadirkan lima pembicara kunci yang memiliki peran strategis di tingkat nasional dan global. IGAK Satrya Wibawa selaku Duta Besar RI untuk Unesco membuka diskusi mengenai diplomasi budaya, Unesco Creative Cities, dan tantangan representasi budaya di era digital. Meilinda dari PCU membahas peran teater dan konsep whole person education dalam membangun generasi kreatif. Dwinita Larasati dari Indonesia Creative City Network (ICCN) mengulas ekosistem kota kreatif Indonesia serta kolaborasi lintas sektor. Vincent Padaré dari IFI memaparkan praktik kota kreatif di Prancis dan peluang kolaborasi Prancis–Indonesia. Sementara itu, Ra Sapta Candrika dari Teater Koma memberikan gambaran masa depan teater di era digital dan transformasi seni pertunjukan yang berkelanjutan.

Selama enam jam, para pembicara dan peserta membedah studi kasus industri seni pertunjukan yang beradaptasi dengan pandemi dan disrupsi digital, termasuk pengalaman Teater Koma melalui inisiatif #DigitalisasiKoma yang kini berkembang menjadi ruang interaksi lintas platform. Pembahasan ini memperlihatkan bahwa seni pertunjukan mampu menghasilkan nilai ekonomi dan sosial ketika diintegrasikan dengan industri kreatif.

Baca Juga :  Singkap Perilaku Masyarakat, Profesor ITS Telaah Potensi Teknologi NLP

Simposium ini sekaligus menjadi momentum perayaan 23 tahun Petra Theatre. Namun, PCU menegaskan bahwa momen tersebut bukan sekadar refleksi sejarah, melainkan langkah konkret membangun peta jalan baru agar Surabaya dapat muncul sebagai pusat seni pertunjukan kelas dunia. Salah satu penggerak utamanya adalah gagasan revitalisasi Balai Budaya, yang dinilai berpotensi menjadi panggung besar ala Broadway untuk produksi teater, tari, dan musik Surabaya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya integrasi pendidikan seni dari sekolah hingga perguruan tinggi untuk memperkuat ekosistem kota kreatif. Konsep whole person education yang diusung PCU dinilai relevan untuk membentuk generasi yang mampu memadukan kreativitas, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.

Meilinda menutup simposium dengan menegaskan pentingnya dukungan kebijakan publik dan kerja sama industri kreatif. Ia mengatakan, “Langkah ini membuktikan bahwa seni pertunjukan bukan hanya sekadar hiburan. Ini adalah investasi strategis yang mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan diplomasi budaya menuju Indonesia Emas 2045.”(tok)