KILASJATIM.COM, Surabaya – Banjir besar di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat membuka kembali persoalan serius dalam tata kota, pengelolaan sungai, hingga kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim. Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Dr. Ir. Ar. R.A. Retno Hastijanti, memberikan penjelasan komprehensif mengenai akar masalah, urgensi adaptasi, hingga peran masyarakat.
Menurut Dr. Retno Hastijanti, bencana ini bukan lagi sekadar musibah alam, tetapi alarm keras bahwa perubahan iklim kini berdampak langsung pada kehidupan kota. “Perubahan iklim bukan lagi teori di ruang seminar. Ia sudah mengubah aliran sungai, lereng, tanah, dan ekosistem kota,” ujarnya. Dr. Retno juga menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh korban dan penyintas.
Ia menjelaskan bahwa cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. Intensitas hujan yang tidak wajar dan perubahan pola angin membuat sistem hidrologi kota runtuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa prediksi lama sudah tidak relevan. “Master plan kota harus menjadi dokumen hidup yang diperbarui mengikuti data iklim terbaru,” tegasnya.
Dr. Retno memaparkan bahwa banyak kota di Sumatera tumbuh secara organik di sekitar sungai, mirip dengan kota besar di Asia. Namun, perkembangan ini menimbulkan masalah ketika wilayah pinggir sungai dipenuhi permukiman informal, ruang resapan hilang, dan tata kelola sungai melemah. Kombinasi pembangunan tak terkontrol dan cuaca ekstrem menjadi penyebab utama bencana.
Pemerintah daerah perlu menggunakan pendekatan berbasis data dan memperbarui peta risiko secara berkala. “Pembaruan peta lidar dan sonar sangat penting untuk memahami perubahan topografi dan pergerakan lahan,” jelasnya. Semua data hidrologi, geologi, dan iklim harus diintegrasikan dalam perencanaan ruang agar pengembangan kota lebih aman dan terkendali.
Dr. Retno menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan faktor keselamatan warga. Keseimbangan ruang terbangun dan ruang kosong menentukan ketahanan kota. “Kesejahteraan warga tidak dapat dicapai jika pembangunan menempatkan masyarakat dalam ancaman bencana berulang,” katanya. Kesadaran publik memegang peran besar. Dr. Retno menekankan bahwa kota Indonesia bersifat human-centric sehingga perilaku warganya sangat menentukan. Pengelolaan sampah, pemanenan air hujan, hingga menjaga tepian sungai menjadi bagian penting dari ketahanan kota. Infrastruktur yang baik tidak akan maksimal tanpa partisipasi masyarakat.
Ia menekankan perlunya model kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, sektor bisnis, dan media. “Bencana tidak akan selesai jika semua pihak bekerja sendiri-sendiri. Kita butuh kerja bersama lima aktor utama,” ucapnya. Dr. Retno menyebut bencana ini sebagai luka sekaligus peringatan. “Kita tidak boleh lagi menunda penataan kota berbasis perubahan iklim. Jika ingin kota tetap layak huni, langkah adaptif harus dilakukan sekarang, bukan nanti.”(tok)
