Dari Seremoni ke Substansi: Mengembalikan Makna Hari Guru

oleh -1644 Dilihat
Suasana belajar di kelas PAUD dan TK Aisyiyah Dalung, Kuta Utara Badung, Bali

Oleh: Menur Kusuma,
Praktisi Pendidikan

Setiap tahun, tanggal 25 November selalu datang dengan gegap gempita. Di banyak sekolah, orang tua berkeliling pasar, berburu baju adat yang bahkan tak pernah ada dalam keseharian anak-anak mereka. Jalan-jalan sekitar sekolah penuh dengan pedagang dadakan; toko tekstil mendadak ramai. Peringatan Hari Guru berubah menjadi ritual belanja yang terkadang membuat kita lupa menanyakan hal sederhana: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?

Apakah ini wujud penghormatan kepada guru—sosok yang membimbing perjalanan pengetahuan dan karakter anak-anak kita? Atau sekadar perayaan seremonial yang lama-kelamaan merapuhkan maknanya sendiri?

Di ruang lain, wali murid datang membawa bingkisan. Ada yang besar, ada yang kecil, sebagian diberikan sembunyi-sembunyi, sebagian diserahkan dengan penuh seremoni. Pertanyaannya pun muncul: hadiah itu diberikan kepada siapa? Guru yang mengajar dengan ketulusan, atau guru yang dianggap “menentukan nilai”? Pada titik ini, kita seperti berhadapan dengan dua dunia: satu dunia yang penuh formalitas dan satu dunia yang memuat realita keseharian guru yang kerap luput dari sorotan.

Padahal, bila kembali ke akar sejarahnya, Hari Guru bukanlah panggung kostum. Ia adalah momen refleksi untuk menghargai “sang tulodho,” sosok yang menjadi penuntun moral, pelita bagi generasi baru. Namun justru nilai keteladanan inilah yang perlahan memudar dalam hiruk-pikuk modernisasi sistem pendidikan kita.

Ki Hadjar Dewantara pernah merumuskan tiga poros pendidikan:
Ing ngarso sung tulada – ketika di depan, guru memberi contoh.
Ing madya mangun karso – ketika di tengah, guru membangkitkan semangat.
Tut wuri handayani – ketika di belakang, guru menuntun dengan dorongan.
Tiga falsafah ini seharusnya menjadi arah kompas perjalanan pendidikan. Tetapi hari ini, banyak guru tenggelam dalam beban administrasi yang tak kunjung selesai. Laporan, supervisi, asesmen, aplikasi, portofolio—semuanya menumpuk, menggeser peran hakiki guru menjadi sekadar operator sistem. Murid pun berubah menjadi objek penilaian, bukan pribadi yang sedang tumbuh.

Baca Juga :  Psst! Kylie Jenner Diam-diam Sudah Main ke Rumah Timothee Chalamet

Di tengah pergeseran itu, perayaan Hari Guru semakin terjebak pada kemasan. Yang dipamerkan bukan kebijaksanaan, tetapi penampilan. Yang diprioritaskan bukan kedalaman relasi guru-murid, tetapi kemeriahan panggung dan foto grup yang siap diunggah.
Padahal, esensi seorang guru terletak pada nuraninya. Pada kesediaan untuk hadir bagi siswa, bahkan ketika penghargaan material tak pernah sebanding dengan kerja keras mereka.

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke KB–TK Aisyiyah Dalung di Kuta Utara, Badung, Bali. Di sana, saya melihat bagaimana guru bekerja dalam sunyi—jauh dari sorotan publik, tetapi begitu dekat dengan keseharian anak-anak. Mereka menenangkan tangisan, membersihkan tumpahan, mengawasi anak yang baru belajar berpisah dari orang tuanya, memeriksa pakaian, membantu ke toilet, dan memastikan setiap siswa merasa aman. Tugas-tugas ini tak tertulis di buku pedoman, tetapi dilakukan dengan hati.

Ironisnya, semua dedikasi itu hanya dibalas dengan gaji sekitar satu juta rupiah per bulan. Belum termasuk tenaga dan biaya pribadi untuk membuat prakarya yang harus disiapkan setiap minggu. Usai kegiatan belajar mengajar, mereka kembali mengajar mengaji—dengan bayaran yang tak seberapa, bahkan sering kali tidak jelas berapa yang benar-benar mereka terima.

Sementara itu, pihak sekolah berusaha mencari donatur hanya untuk menambah sedikit insentif bagi para guru. Tidak untuk kemewahan, hanya agar kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi. Ketika melihat wajah-wajah guru di sekolah itu—lelah namun tulus, letih namun tetap hangat—saya seakan melihat cermin paling jujur dari profesi guru: mengabdi tanpa syarat, bekerja dalam diam, dan mencintai dunia anak-anak tanpa menuntut imbalan berlebihan.

Di titik inilah kita perlu bertanya ulang: apakah selama ini kita merayakan guru, atau sekadar merayakan rutinitas yang dikemas ulang setiap tahun?
Hari Guru semestinya menjadi ruang untuk menata ulang makna. Sebuah perhentian sejenak dari ramainya aktivitas sekolah untuk menyimak kembali suara guru—bukan hanya suara kurikulum. Ini adalah waktu untuk mengingat bahwa penghormatan kepada guru tidak datang dari kostum atau hadiah, tetapi dari pengakuan atas peran moral dan emosional mereka dalam kehidupan murid.

Baca Juga :  Warung Tenang di Jantung Keramaian Kota

Guru dihormati bukan karena atribut yang dikenakan pada hari perayaan, tetapi karena kebijaksanaan yang mereka tunjukkan, sikap yang mereka teladankan, dan keteduhan yang mereka berikan di saat murid membutuhkan pegangan.

Dalam konteks itu, nilai Ing Madya Mangun Karso menjadi sangat relevan. Di tengah murid-murid, guru tidak hanya menjadi fasilitator, tetapi penjaga semangat. Bukan semangat kompetisi, tetapi semangat kemanusiaan—terutama di tengah maraknya perundungan yang terjadi di sekolah. Keberpihakan moral guru dapat menjadi pembeda antara sekolah yang aman dan sekolah yang menerbitkan ketakutan.

Begitu pula Tut Wuri Handayani, yang sering diucapkan tetapi jarang dihayati. Prinsip ini mengingatkan bahwa dorongan moral dari belakang kerap lebih menentukan daripada suara lantang dari depan. Guru yang hadir sebagai penopang membuat murid merasa dilihat dan dihargai, sehingga mereka berani bersuara ketika mengalami atau menyaksikan perlakuan tidak adil. Dukungan yang konsisten menjadikan murid tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral.

Pada akhirnya, keteladanan tidak perlu diumumkan; ia bekerja dalam senyap. Anak-anaklah yang akan menentukan siapa guru yang benar-benar membekas dalam hidup mereka. Bukan dari kostum perayaan, bukan dari hadiah, melainkan dari cara seorang guru membuat mereka merasa aman, dihargai, dan mampu menjadi manusia yang lebih baik.

Selamat Hari Guru.
Untuk mereka yang menjaga cahaya dalam sistem yang kadang meredupkan.
Untuk mereka yang tetap menjadi penuntun ketika banyak yang sibuk mengejar citra.
Untuk mereka yang, dalam diamnya, menanamkan keberanian dan kejujuran pada generasi yang sedang tumbuh.(*)