KILASJATIM.COM, Lumajang – Kepala Desa Supiturang, Nurul Yakin, melaporkan kondisi terkini wilayahnya pasca-erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Rabu (19/11/2025). Ia menyebut situasi desa masih diselimuti cuaca gelap dengan abu vulkanik yang menumpuk di jalan dan permukiman.
“Cuaca mendung dan abu-abu masih banyak berserakan di jalan,” ujar Nurul, Jumat (21/11/2025). Seluruh warga telah dievakuasi ke lokasi pengungsian, meski sebagian masih kembali ke rumah untuk menyelamatkan barang-barang penting.
Lebih dari 200 rumah dilaporkan terdampak parah. Banyak bangunan yang rata dengan tanah atau tertimbun abu vulkanik setinggi 3 hingga 4 meter. Sebagian rumah tertutup hingga mencapai atap sehingga tidak mungkin dihuni kembali. “Warga untuk sementara tetap di pengungsian. Rumah banyak yang tidak bisa ditempati karena tertutup abu,” tambahnya.
Nurul mengatakan area terdampak kali ini lebih luas dibanding erupsi besar pada 2021. Guguran awan panas dan material vulkanik merembet hingga masuk ke Dusun Gumukmas. “Ada perluasan. Sekarang merembet sampai Dusun Gumukmas,” ucapnya.
Distribusi bantuan logistik telah mulai masuk ke Supiturang. Namun warga menghadapi kendala tidak adanya tempat untuk menyimpan bantuan sembako karena banyak rumah yang rusak berat. Dapur umum telah dibangun untuk memastikan kebutuhan konsumsi warga selama berada di pengungsian.
Nurul mengimbau relawan dan pihak yang ingin menyalurkan bantuan agar tetap mengutamakan keselamatan karena aktivitas Semeru masih fluktuatif. “Yang utama itu keselamatan. Jangan sampai ada korban. Semeru tidak bisa diprediksi,” pesannya.
Ia juga memohon perhatian pemerintah daerah dan pusat untuk segera memperkuat tanggul di sisi barat yang dinilai sangat krusial mencegah bencana susulan. “Kami mohon tanggul di barat segera ditinggikan. Kalau tidak, sangat berbahaya,” tuturnya.(den)




