KILASJATIM.COM, Surabaya – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama Lembaga Perguruan Tinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPT PBNU) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dalam rangka memperluas akses beasiswa pendidikan lanjut bagi sivitas akademika Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). Usai penandatanganan, LPDP juga membocorkan arah dan skema baru beasiswa tahun 2026 kepada sivitas akademika Unusa.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur LPDP, Sudarto, dan Ketua LPT PBNU, Prof. Ainun Na’im, disaksikan oleh Prof. Mohammad Nuh, jajaran pimpinan LPTNU, serta perwakilan Kementerian Keuangan. Kerja sama ini membuka peluang beasiswa studi magister dan doktoral, baik di dalam maupun luar negeri, bagi dosen, tenaga kependidikan, serta lulusan terbaik di lingkungan PTNU.
Ketua LPT PBNU, Prof. Ainun Na’im, menegaskan sinergi antara LPDP dan PTNU merupakan langkah strategis dalam membangun SDM unggul dan berkarakter. “LPDP dan PTNU memiliki semangat yang sama dalam mencetak generasi intelektual yang berakhlak, berilmu, dan berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Direktur Utama LPDP, Sudarto, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas manusia melalui pendidikan tinggi menjadi kunci kemajuan bangsa. “LPDP siap mendukung penuh upaya PTNU dalam mencetak kader-kader unggul Nahdlatul Ulama yang mampu bersaing di tingkat global,” katanya.
Sudarto juga menilai tagline Nahdlatul Ulama, Merawat Jagat Membangun Peradaban, selaras dengan visi LPDP dalam memperkuat peradaban melalui pendidikan. “Pesantren dan NU adalah bagian penting dalam membangun peradaban Indonesia. Jika satu persen dari ekosistem ini berdampak, maka Indonesia akan maju,” ujarnya menegaskan.
Dalam kesempatan itu, Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, Ph.D, mengungkap bahwa Indonesia masih memiliki rasio rendah dalam pendidikan lanjut. “Baru 0,53% penduduk usia produktif menempuh pendidikan S2 dan S3. Angka ini jauh tertinggal dibanding Malaysia, Thailand, atau Vietnam,” paparnya.
Dwi menambahkan, LPDP kini mengelola dana abadi hingga Rp181 triliun, namun masih hanya mampu membiayai 4.000 hingga 10.000 penerima per tahun dari sekitar 50.000 pendaftar. “Kita butuh dana sekitar Rp1.000 triliun agar tidak ada lagi warga Indonesia yang terhambat kuliah karena biaya,” tambah Dwi.
Untuk 2026, LPDP akan memfokuskan beasiswa pada bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebesar 80%, terdiri dari 60% STEM murni dan 20% STEM terapan, serta 20% untuk bidang non-STEM. “Kami ingin memberi ruang bagi peserta yang memahami kebutuhan bangsa ke depan. Skema general STEM akan menampung ide-ide baru dari calon penerima,” jelas Dwi.
Ia menutup dengan kabar bahwa informasi ini baru dibagikan di tiga kampus, termasuk Unusa. “Desember kami akan umumkan detailnya, Januari pendaftaran dibuka, disusul gelombang berikut pada Juni. Semuanya untuk mempercepat kemajuan bangsa lewat pendidikan dan inovasi,” pungkasnya.
Kerja sama LPDP dan LPT PBNU diharapkan mampu memperluas kesempatan bagi civitas akademika PTNU untuk menempuh pendidikan lanjut, memperkuat riset, dan membangun ekosistem pendidikan tinggi yang unggul, inklusif, serta berdampak bagi peradaban bangsa.(tok)
