KILASJATIM. COM, Malang – Patung torso sewarna tembaga berdiri tegak menatap matahari terbenam. Dibawahnya terukir sajak “Aku” di tengah alun-alun contong, Jl. Basuki Rachmat, kawasan segitiga emas, Kayutangan Heritage depan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus dan depan Toko Oen.
Tidak banyak yang tahu jika itu patung Chairil Anwar, seorang sastrawan pujangga baru yang lahir di Medan, 26 Juli 1922 silam. Keberadaanya seringkali menjadi pertanyaan, kenapa ia ada di sana? Apa hubungan Chairil dengan Malang hingga dibangun monumen untuknya. Apa yang telah ia lakukan untuk kota ini.
Ya, 78 tahun lalu ia berdiri di sana, lantang membaca sajak yang berisi perjuangan, membakar semangat, menjelang agresi militer Belanda, di sela sidang BP KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) yang berlangsung di Gedung Rakjat (eks Societeit Concordia) kini pertokoan Sarinah, pada 25 Februari-6 Maret 1947. Saat itu Chairil hadir bersama pamannya, Sutan Sjahrir yang menjabat sebagai Perdana Mentri Indonesia (1945-1947), pada pertemuan tersebut hadir pula Mohammad Hatta, wakil presiden pertama (1945-1956).
Masa itu kehadiran seniman dalam sidang BP KNIP, bukan hal aneh. Keberadaan mereka menjadi bagian dari kerja kebudayaan, untuk memobilisasi massa dan membakar semangat rakyat dalam mendukung perjuangan, kemerdekaan Indonesia. Empat bulan setelah pertemuan itu, terjadi peristiwa Malang bumi hangus. Kota ini diduduki Belanda dalam agresi militer satu.
Selama di Malang, Chairil menciptakan dua puisi, Doea Sadjak Boeat B. Resobowo dan Soerga, puisi tersebut dimuat di majalah Pantja Raja, edisi 1 April 1947. Mengenai Basuki Resobowo, tidak lain seorang pelukis dan sahabat karib Chairil. Konon mereka kerap bertemu selama berkunjung ke Malang atau sebaliknya.
Mengenai torso sewarna tembaga, dibuat oleh Widagdo seorang perupa yang terkenal dimasanya. Pembuatanya diprakarsa oleh Achmad Hudan Dardiri, penyidik militer yang kagum dan tertarik pada puisi Aku. Puisi tersebut dianggap menjadi penyemangat perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan yang mampu membakar semangat pemuda, terutama arek Malang.
Patung itu diresmikan pada 28 April 1955, oleh Walikota Malang ke enam, M. Sardjono Wirjohardjono. Satu dekade setelah Indonesia merdeka dan tujuh tahun setelah kepergian Chairil, 28 April 1949.
“Aku baru tahu kalau itu patungnya Chairil Anwar. Padahal sering lewat sini,” kata Anna salah seorang peserta working tour, bertajuk “Jejak Sang Bohemian” bersama komunitas Sabtu Membaca, dan Malanggoodguide, beberapa waktu lalu.
Dari beberapa cerita yang dihimpun. Konon Chairil bukan hanya sekali datang ke Malang. Mungkin beberapa kali, seperti yang dituturkan penulis Ratna Indraswari Ibrahim (almarhumah) semasa hidupnya. Menurut penulis novel 1998, ketika kecil ibunya, Siti Bidasari Ibrahim kerap bercerita tentang Chairil Anwar yang kerap bertandang ke rumahnya. Sekadar mampir atau menginap.
“Kata mami (panggilan Siti Bidasari Ibrahim) ia sering datang menginap di rumah. Mami sering marah kalau ia pulang tanpa pamit, kadang juga tidak lewat pintu. Katanya sda saja barang yang dibawa, meski sepele. Waktu itu mami sedang mengandung aku. Mungkin karena jengkel sama seniman aku juga jadi seniman juga. ” ceritanya sambil terkekeh dalam obrolan santai di rumahnya, Jl. Diponegoro, Kota Malang.
Mengenai apa hubungan Chairil dan keluarganya. Ratna tidak menceritakan detail. Ia hanya menyampaikan jika keluarganya kenalan baik dengan keluarga si penyair. Sebab Saleh Ibrahim, ayah Ratna dikenal sebagai jaksa dimasanya dan berasal dari Padang Panjang. Begitu pula dengan Sutan Sjahrir mereka dari tanah yang sama. Seperti kebanyakan perantau, satu sama lain saling mengenal, dan dimasa itu jumlah intelektual tidak sebanyak sekarang. Pertemanan itu sangat memungkinkan.
Masih seperti cerita Ratna, tempat lain yang kerap disingahi Chairil adalah rumah kediaman keluarga Syafril di Jl. Tenes, kini menjadi depot Ayam Goreng Tenes, tidak jauh dari Stadion Gajayana Malang. Semasa kecil Ratna mengaku kerap diajak ibunya ke rumah tersebut dan nyonya rumah menceritakan hal serupa tentang Chairil Anwar. Selebihnya tidak diketahui, bertualang kemana lagi Chairil selama di Malang. Hanya itu yang diceritakan ibunya. Selain itu Ratna lahir 24 April 1949, empat hari sebelum penyair itu meninggal. Mengenai barang remeh temeh yang dijadikan souvenir dan membuat ibunya marah adalah seprei atau selimut.
Sementara menurut Ekosistem dari komunitas Malanggoodguide, komunitas yang aktif menyusuri sejarah Kota Malang, kegiatan menelusuri jejak Sang Bohemian ini sangat menarik. Selama ini tidak ada catatan mengenai Chairil Anwar selama di Malang. Selain mengikuti pamannya dalam sidang BP KNPI dan pembacaan sajak disela acara sidang berlangsung. Dengan ada informasi tersebut, ia lebih mengetahui jejak penyair selama di Malang, juga mengenal sejarah kota ini. Dimana, ada masa puisi, karya sastra dikutip dan dipajang di tepi jalan untuk mematik semangat kera (arek dalam boso walikan) Malang, bangkit mengusir penjajah.
“Selama ini mungkin orang hanya tahu ada patung Chairil Anwar. Tapi tidak mengetahui mengapa patungnya ditempatkan di sana. Dengan melakukan perjalanan, napak tilas ini kita jadi tahu rekam jejaknya, alasan didirikanya monument tersebut. Dan hubunganya dengan Malang, sungguh luar biasa. Dari kata-kata saja orang bisa berjuang. Semoga bermanfaat bagi kita semua,” terangnya.(TQI)




