Lewat Inovasi Batik dan Pangan Lokal, Unitomo Ubah Desa Miskin Ekstrim Jadi Sentra Kreatif

oleh -154 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Inovasi teknologi menjadi kunci transformasi ekonomi bagi masyarakat Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo. Melalui Program Mahasiswa Berdampak Pemberdayaan Masyarakat (PM-BEM), tim dosen dan mahasiswa Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) berhasil mengubah desa yang masuk kategori miskin ekstrem menjadi sentra kreatif berbasis industri batik dan pangan lokal.

Program bertajuk “Optimalisasi Industri Kreatif Batik Situbondo dan Kelompok PKK melalui Inovasi Mesin Motif Batik Otomatis dan Mesin Food Dehydrator” ini dipimpin oleh Dr. Ir. Suyanto, MM, ME dengan dukungan Prof. Dr. Ir. Fadjar Kurnia Hartati, MP dan Dr. Dra. Liosten Rianna Roosida Ully TA, MM. Kegiatan ini menargetkan dua mitra utama, yakni IKM Batik Rengganis dan Kelompok PKK Desa Selowogo, serta didanai oleh LPPM Unitomo.

Sebelum adanya program, pengrajin batik di Selowogo masih bekerja secara manual dengan hasil produksi terbatas dan kualitas yang tidak stabil. Melalui penerapan mesin motif batik otomatis, kini produktivitas IKM Batik Rengganis meningkat hingga 30 persen, kualitas motif naik 40 persen, dan produk cacat turun 14 persen. Dampaknya terasa langsung dengan kenaikan omset pengrajin mencapai 35 persen per bulan. “Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan, tapi juga membuka jalan bagi kemandirian ekonomi masyarakat desa,” ujar Dr. Ir. Suyanto, MM, ME, ketua tim pelaksana.

Tidak hanya pengrajin batik, Kelompok PKK Desa Selowogo kini bertransformasi menjadi produsen mandiri dengan memanfaatkan mesin food dehydrator. Melalui pelatihan, mereka mampu mengolah daun kelor menjadi produk bernilai jual seperti tepung dan keripik kelor, yang juga mendukung program pencegahan stunting di desa. Keterampilan membatik anggota PKK meningkat hingga 50 persen, kemampuan pengolahan pangan naik 70 persen, dan pemahaman pembukuan sederhana bertambah 40 persen.

Baca Juga :  Mahasiswa Ubaya Kembangkan Boneka Pintar Edukasi Anak

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unitomo, Prof. Dr. Nur Sayidah, menegaskan bahwa program ini membuktikan peran nyata perguruan tinggi dalam pembangunan desa. “Inovasi dari kampus harus bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Peningkatan kesejahteraan warga Selowogo adalah bukti bahwa kolaborasi akademisi dan warga bisa menjadi solusi konkret bagi kemiskinan ekstrem,” ujarnya.

Program ini menjadi contoh bagaimana inovasi teknologi, ketika berpadu dengan kearifan lokal dan semangat kolaborasi, mampu mengubah wajah desa menjadi lebih mandiri, kreatif, dan berdaya saing.(tok)