Memburu Kalacakra, Tentang Waktu Pencarian Makna Tuhan dan Cinta

oleh -1256 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang – Apa yang terjadi hari ini cerminan masa lalu. Setiap perjumpaan menciptakan kisahnya sendiri. Baik dan buruk setiap orang memiliki benang merah, masalalu dan masa kini.

Semua ditulis dalam novel Memburu Kalacakra, karya Ani Sekarningsih. Mengisahkan seorang perempuan bernama Arleta, ditinggal Riyan cinta pertama, Reno laki-laki yang memintanya jadi istri kedua, Aji suaminya yang meninggal di teluk Jakarta dan meninggalkan tabungan deposito dan rumah. Serta Bondan suami keduanya yang minggat, membawa tabungan dan menggadaikan rumahnya pada rentenir. Menjelang kelahiran Garin, anaknya.

Novel ini mengangkat tema yang terjadi di sekitar kita. Pernikahan tanpa restu, penghianatan, kehilangan, pengasuhan orang tua dan keyakinan. Dipengaruhi sosial, budaya dan agama yang berujung pada pencarian makna cinta dan ketuhanan.

Arleta kecil, dititipkan pada Bi Nia, adik ibunya yang memiliki rumah kos dan bekerja sebagai guru. Membuat Arleta diasuh penghuni kos saat ditinggal kerja. I Made Riyan diantaranya, pemuda asal Tabanan, Bali. Ia merengut keperawanan Arleta saat usia 12 tahun. Sehari berikutnya Riyan hilang meninggalkan rumah dan keluarganya di Bali. Hal ini membawa petualangan seks. Hingga bertemu dengan Aji, suami pertamanya yang meninggal setelah empat bulan pernikahannya.

Pernikahan dengan Bondan, pelukis belum terkenal tak mendapat restu orang tua. Memenuhi kebutuhan hidup dari honor Arleta yang bekerja sebagai wartawati freelance, menjadi MC, berdagang kue dan pakaian.Hingga kepergian Bondan, membuatnya ingin mengakhiri hidup. Saat itulah ia dikenalkan guru ngaji, yang mengajarkan tawakal dan mengutamakan dzikir.

Lantas belajar Reiki untuk penyembuhan luka batin, keseimbangan dan perdamaian dengan masa lalu. Dalam pencariannya ia, bertemu beberapa guru Resi Gupta, guru Yoga sebagai perantara jalan spiritual pencariannya. Megatruh, ustadz Permana, Abah Ma’am, tempatnya bertanya ketika pikirannya kacau dengan berbagi pertanyaan yang tak bisa di jawab. Tentang ketuhanan disampaikan. Serta Rimpoche yang dijumpai dalam pesawat, turut memperkaya perjalanan spiritualnya.

Baca Juga :  Pelayanan Puskesmas Se-Surabaya Tetap Buka Selama Libur Cuti Bersama dan Idul Fitri 

Dalam salah satu perjalanan Arleta yang bekerja sebagai staf humas perusahaan tambang Midtex mendapat pelatihan ke New Orleans, Amerika. Tasnya dicopet, berikut uang dan tiket pesawat. Seperti orang timur umumnya, dalam keadaan putus asah, ia mencari orang pintar. Berharap barang hilang bisa kembali. Sekali pun hanya harapan di negara adidaya. Datang lah ke ahli Tarot, hasilnya Arleta akan menemukan barang berharga, dilamar orang dan menikah. Hidupnya akan lebih baik, tapi tak lama. Sebab ada kepagian menyertainya. Begitulah kesedihan dan kebahagiaan perlu divalidasi dari Phill Gideon empunya kartu.

Menjelang pulang ke Indonesia ia bertemu Riyan, di kapal uap Natchez. Namun Riyan mengaku tidak mengenalnya. Arleta pun menyadari kesalahannya. Bahwa wanita yang terbelenggu cinta mendatangkan penderitaan. Sedang pada pria, tanpa disadari mencari perempuan sebagai pemuas libido. Jika pria menikahi perempuan demi melestarikan garis marganya, tak ada cinta sejati, pikirnya. Mungkin, bagian ini tidak penting, tapi saya suka dengan kalimatnya. Sebab banyak perempuan terjebak di sana.

Di museum Voodoo, tersedia berbagai bentuk kartu ramal dari tarot berbagai negara, juga kartu aztek, jipsi dan runes. Ani menuliskan kegelisahan manusia. Bahwa manusia tak manjur dengan aturan agama yang dogmatis. Pikiran manusia mencari pembebasan dari kerumitan pilihan. Pilihan mengandung kebimbangan yang membentur keterbatasan. Manusia butuh jalan pintas lewat lambang alam yang diterjemahkan lewat mimpi atau lembar kartu.

Dan salah satu cara menemukan diri dengan dua pertanyaaan dasar, apa alasan kita dilahirkan? dan siapakah aku? Untuk mendapat jawaban dilakukan dengan mediasi, yoga bersama sembilan saudara pada tubuh dan jiwa manusia.

Ia juga mengkritik cara pendidikan beragama di Indonesia. Umumnya mengajarkan cara berdoa, shalat, puasa dan sebagainya. Sejak TK sampai mahasiswa, tapi dasar aqidah dan pokok keimanan jarang ditekankan. Semacam pendidikan gaya spartan militerisme dengan cepetan sapu lidi, yang menimbulkan kekerasan, kemarahan, kebencian, dendam, pembangkangan dan tidak mandiri. Akhirnya menumbuhkan shalat seseorang hanya jasmani, agar mendapat pujian dari orang tua.

Baca Juga :  Dinkes Surabaya Ungkap Daging Tak Dicuci Bersih dan Kurang Matang jadi Penyebab Warga Kalilom Keracunan

Ketika shalat dianggap menyelamatkan keluarga dari api neraka. Saat itulah shalat dijadikan alat negosiasi untuk membeli surga. Dan itulah umumnya yang dilakukan oleh guru maupun orang tua.

Bagian lain, yang relevan dengan keadaan sekarang. Dimana orang terlena oleh hal-hal lahiriah agama. Tidak lagi peduli pada nilai universal karena lebih mencintai hidup dalam kepalsuan. Dengan mempermasalahkan bentuk Islam yang kontekstual sebagai ekspresi budaya. Yakni cermin kebudayaan Arab sebagai ekspresi lokal partikular yang diterjemahkan secara harfiah, mensosialisasikan jenggot, jubah-sorban, qishash, jilbab supaya mendapat pengakuan Islam.

Sebab kebetulan, penulis novel setebal 411 beragama Islam, maka agama tersebut lebih banyak diulas. Namun lima keyakinan lain dan kebudayaan leluhur tetap diperhatikan. Akan lebih baik kalian membaca sendiri. Sebab tak cukup rasanya karya terbaik ibu dari pengamat militer, Connie Rahakundini ditulis di sini. (TQI)