DPRD Surabaya Minta Program Intervensi Gen Z Fokus pada Kemandirian Anak Muda

oleh -410 Dilihat
Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko

KILASJATIM.COM, Surabaya – Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, meminta agar alokasi anggaran untuk program intervensi Gen Z dalam APBD 2026 benar-benar diarahkan untuk membangun kemandirian anak muda. Ia menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketelitian camat dan lurah dalam menyeleksi proposal yang layak didanai.

“Anggaran 2026 pemerintah kota ini insyaallah menganggarkan sebesar Rp47 miliar untuk intervensi Gen Z. Tujuannya tentu ingin mengurangi angka kemiskinan, pengangguran, lalu kemudian juga bisa mendorong para Gen Z ini memiliki kemandirian,” ujar Yona usai pembahasan R-APBD 2026 dengan Bapemkesra, Kamis (23/10/2025).

Politisi Partai Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe itu menjelaskan, dana sebesar Rp47 miliar tersebut akan disalurkan ke tingkat kecamatan, di mana setiap RW diproyeksikan menerima sekitar Rp35 juta per tahun. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian aparat wilayah dalam menyetujui proposal agar program yang dijalankan benar-benar berkelanjutan.

“Nah, agar program ini bisa berjalan dengan baik, kami di DPRD Kota Surabaya menekankan untuk para camat dan lurah ini tidak gegabah atau tergesa-gesa meng-approve proposal tanpa kajian. Harapan kami proposal yang diajukan itu punya sustainable,” kata dia.

Menurut Yona, kegiatan yang dibiayai seharusnya berorientasi pada kemandirian ekonomi anak muda. Ia menilai program berbasis kelompok seperti urban farming, kuliner, hingga usaha digital lebih tepat dibanding kegiatan seremonial.

“Contoh adalah usaha berbasis digital, kuliner dan lain-lain. Namun ini bersifat kelompok ya, bukan individu. Grouping, bukan individu,” ujarnya.

Yona mencontohkan keberhasilan program urban farming di kawasan Rungkut yang telah mampu memasok produk ke toko modern sebagai bentuk kegiatan berkelanjutan yang bisa dijadikan teladan.

“Hasil urban farming bisa disupply ke toko-toko modern dan ini menumbuhkan ekonomi. Ini yang kami dorong jadi benchmarking,” ucapnya.

Baca Juga :  Pernah Menyamar Jadi Kuli Bangunan Demi Keluarga, Sekarang Sopyah Jadi Brand Ambassador MS GLOW

Ia juga menekankan pentingnya pelatihan yang disertai modal usaha agar tidak berhenti pada teori semata. Bahkan, menurutnya, dana dari beberapa RW bisa digabung untuk mendanai kegiatan dengan investasi lebih besar namun memiliki dampak jangka panjang.

“Jangan hanya ikut trendset tanpa hitung masa hidup usahanya. Culinary memang ramai, tapi berapa banyak SWK yang hidup segan mati tak enak,” kata dia.

Lebih lanjut, Yona mengingatkan agar program intervensi ini tidak justru membentuk pola pikir instan di kalangan anak muda. Ia menilai, Gen Z harus dibiasakan melalui proses panjang agar tumbuh menjadi wirausahawan mandiri.

“Ajari adik-adik kita sebuah proses, bukan hasil. Jangan biasakan mereka hanya menerima bantuan sampai mentalnya menjadi mental terus meminta,” ujar Cak Yebe.

Ia memastikan DPRD Surabaya akan melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan program serta mendorong penerapan model trial and error sebelum disetujui penuh.

“Insyaallah kalau program ini berjalan seperti yang kami inginkan, akan terjadi ledakan luar biasa. Kita akan banyak melahirkan entrepreneur muda berbasis intervensi Gen Z ini,” tutur dia. (FRI)