KILASJATIM.COM, Malang – Bengong. Berapa waktu lalu kami berbincang tentang bengong, sedih atau termenung. Serta tersedianya co-working space di toko ritel tepi jalan, semacam Indomaret, Alfamidi, FamilyMart dan Lowson, menjadi ruang bagi mereka yang ingin bekerja atau sekedar nongkrong dan bengong.
Konon, bagi pekerja dan mahasiswa duduk berlama-lama di depan toko ritel menjadi kebutuhan. Seusai pulang kerja, pulang kuliah atau malam ketika tidak bisa tidur.
“Kalau ditanya kenapa? Nggak tahu, pengennya bengong aja sendiri. Lihat jalan, terus pulang kalau sudah lega. Kadang kita merasa sedih tanpa alasan dan tidak pengen ngomong sama teman. Jadinya sendiri saja,” kata Monalisa (20 tahun), mahasiswi UB yang sedang menyusun skripsi, Senin (13/10/2025).
Menurutnya duduk sendiri menikmati minuman, sepotong roti sambil melihat jalanan menimbulkan rasa tersendiri. Setelah seharian melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing guna melanjutkan skripsinya yang masuk bab tiga. Ia tidak memiliki masalah urusan kuliah. Hanya merasa lelah saja. Hendak pulang ke kost, di kosan sepi, penghuni kost punya kesibukan masing-masing. Scroll hape lama-lama bosan. Sebab itu, Mona memilih duduk di depan toko ritel sambil menikmati keramaian jalan.
Dari semua usaha ritel yang menyediakan tempat duduk untuk bengong, Mona kerap datang ke Indomaret. Selain menyediakan es kopi dan makanan kekinian yang harganya terjangkau, toko biru ini dikenal buka 24 jam dan dekat dengan kostnya.
Soal bengong, Mutia (20 tahun) mahasiswi Fakultas Psikologi, UMM menyampaikan hal serupa. Seringkali ia duduk sendiri di depan Lowson, sambil menikmati jajan, melihat kendaraan yang lewat. Kadang bersama teman, meski lebih sering sendirian.
“Kenapa? Mungkin karena kita anak rantau, jauh dari keluarga. Saat-saat tertentu kita ingat rumah. Ditambah percepatan informasi teknologi smartphone yang menyajikan berita, ada pembunuhan, perkosaan, korupsi dn sebagainya. Semua masuk tanpa kita minta, secara tidak langsung itu membuat sedih,” terangnya dalam satu diskusi kecil di Taman Slamet, Sabtu (11/10/2025).
Mahasiswi semester tujuh asal Jakarta ini menyampaikan. Otak manusia itu bisa menyerap apa saja. Termasuk informasi dari smartphone. Ditambah kebiasaan scroll membuka medsos baik Instagram, X (Twitter) atau TikTok. Informasi yang disampaikan medsos tidak selalu kabar baik, juga kabar sedih. Itulah yang mempengaruhi perasaan sedih tiba-tiba, selain masalah pribadi.
Menurutnya, rasa sedih tanpa sebab itu, bukan hanya ia rasakan. Beberapa kawannya pun sering merasa demikian. Sedih tanpa alasan dan hilang begitu saja setelah duduk sendirian.
“Jangan tanya kenapa? Kita tidak tahu. Sedih ya sedih saja tidak butuh alasan,” sambungnya sambil tertawa.
Sedang Selly (18 tahun) seorang pekerja ritel yang saya jumpai di depan Toko Merah menyampaikan, sepulang kerja terutama shift siang yang pulang malam. Mengaku tidak langsung pulang, tapi ngadem dulu di depan Indomaret sambil menikmati es kopi dan roti.
“Ngadem, capek kan jadi kasir, ngitung uang jutaan, belum lagi target penjualan, kalau tidak memenuhi target kena omelan boss. Tahu sendiri kan ga gampang meyakinkan orang membeli produk. Kita sudah usaha tapi tetap saja kena marah,” ceritanya.
Sebab itu, ia kerap duduk sendiri menikmati lelah sepulang kerja, sebelum sampai kost, tidur dan melanjutkan bekerja esoknya. Sebab itu bengong sendiri menjadi ritual yang dilakukan hampir setiap hari.
Mengapa ia memilih diam dan melihat jalanan. Sebab ia tidak ingin keluarga di rumah tahu masalahnya. Bercerita pada teman dianggap tidak penting, sebab teman belum tentu bisa memberi solusi.
Selain itu, ia kapok berbagi cerita pada teman. Bukanya diberi solusi, keluhannya diceritakan pada semua teman yang lain. Sebab itu ia jarang berbagi soal kesulitan pada orang lain. Dengan pacar, ia lebih pusing sebab pacarnya kerap menanyakan hal ini-itu yang tidak penting. membuatnya makin pusing. Diam, sendiri sampai rasa kantuk tiba, pulang dan istirahat sebelum bekerja esoknya.
Masih menurut Mutia, sedih itu hal yang lumrah, asal tidak berlebihan. Sebab manusia memiliki enam emosi dasar, sedih, bahagia, takut, marah, jijik dan terkejut. Jadi bengong bagian dari rasa sedih yang datang dan pergi pada siapa saja. Terutama Gen Z yang tinggal di perantauan. (TQI)
