KILASJATIM.COM, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan Wali Kota Eri Cahyadi. Belakangan, beredar akun WhatsApp palsu yang menggunakan foto dan nama Wali Kota Surabaya untuk memperdaya calon korban.
Akun tersebut diketahui menggunakan nomor 0813-5612-7886, dengan profil menyerupai akun pribadi Wali Kota. Pelaku menghubungi sejumlah orang dan berpura-pura sebagai Eri Cahyadi untuk meminta bantuan dana atau menawarkan sesuatu yang mencurigakan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Surabaya, M. Fikser, menegaskan bahwa nomor tersebut bukan milik Wali Kota Eri Cahyadi.
“Ada pihak yang mengaku sebagai wali kota dan meminta sejumlah dana. Kami tegaskan, itu bukan nomor beliau. Warga harus berhati-hati dan tidak mudah percaya pada pesan mencurigakan,” kata Fikser dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (14/10/2025).
Ia mengimbau masyarakat agar tidak menanggapi pesan yang mengatasnamakan pejabat Pemkot, terutama jika disertai permintaan uang.
“Kalau ada pesan singkat atau telepon yang mengatasnamakan pejabat pemerintah dan isinya permintaan uang atau tawaran tidak wajar, bisa dipastikan itu penipuan,” ujar mantan Kepala Satpol PP Surabaya ini.
Pemkot Surabaya meminta warga yang menerima pesan serupa untuk segera melapor ke aparat penegak hukum (APH) agar pelaku bisa ditindak.
Selain masyarakat umum, Fikser juga mengingatkan ASN dan pegawai BUMD agar tidak mudah percaya dengan informasi dari sumber yang tidak resmi.
“Pastikan kebenaran informasi melalui kanal resmi Pemkot Surabaya. Pemerintah kota tidak bertanggung jawab atas kerugian akibat tindakan pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Selain memberi imbauan, Pemkot Surabaya memperkuat pengawasan digital dan edukasi publik untuk mencegah maraknya modus penipuan serupa.
Menurut Fikser, edukasi dilakukan melalui berbagai kanal resmi Pemkot, termasuk media sosial dan situs web pemerintah.
“Peningkatan literasi digital sangat penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dengan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat yang lebih baik, diharapkan tidak ada lagi warga yang menjadi korban penipuan digital,” pungkas pria asal Serui ini. (cit)




