KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Suasana duka masih menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, lima hari setelah mushola di kompleks tersebut runtuh. Puluhan orang tua santri terus berjaga di sekitar lokasi, berharap kabar keberadaan anak-anak mereka yang belum ditemukan.
Di tengah situasi haru itu, perhatian datang dari K.H. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syech K.H. Hasyim Asy’ari. Pada Jumat malam (3/10), ia hadir meninjau posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kediaman pengasuh ponpes, serta lokasi evakuasi korban.
“Kehadiran kami di sini untuk memberi dukungan, semangat, dan doa bagi keluarga besar Ponpes Al-Khoziny. Kami juga ingin memberikan penguatan kepada para orang tua santri yang masih menunggu kepastian kabar anaknya,” ujar K.H. Irfan Yusuf.
Ia mengingatkan, proses evakuasi tidak bisa dilakukan dengan cepat karena medan yang sulit. “Ini tidak gampang, butuh waktu dua sampai tiga hari. Mohon bersabar, insyaallah semua sudah ditangani oleh tim yang ahli. Pemerintah Provinsi juga sudah memberikan dukungan maksimal,” tambahnya.
Sementara itu, kesedihan mendalam dirasakan Abdullah, salah satu orang tua santri asal Krembangan Jaya Selatan, Surabaya. Ia datang ke posko Ante Mortem Bid Dokkes Polda Jatim untuk menyerahkan data identitas anaknya, Muhammad Rehan Jamil (14).
“Harapannya, setelah melapor di sini anak saya segera ditemukan. Kalau memang tidak tertolong, semoga bisa cepat dimakamkan,” ucapnya lirih.
Tragedi runtuhnya mushola Ponpes Al-Khoziny telah menelan puluhan korban jiwa dan masih menyisakan puluhan santri yang hilang. Proses pencarian terus dilakukan siang malam oleh tim SAR gabungan, sementara keluarga korban hanya bisa menanti dengan doa dan harapan.(TAM)


