Oleh Eri Irawan
Pendengar musik
Ada hal yang istimewa ketika sebuah kota merayakan musiknya sendiri, termasuk Surabaya. Jalanan yang biasanya hanya dipenuhi lalu lalang kendaraan, malam yang biasanya kebak suara klakson dan deru motor (seperti digambarkan Silampukau dengan apik di “Malam Jatuh di Surabaya”), tiba-tiba dipenuhi suara musik bertalu. Lampu-lampu panggung menyala, ribuan orang berkumpul, dan sejenak Surabaya berhenti menjadi kota kerja keras semata. Ia menjelma menjadi kota yang bernyanyi.
Akhir September ini, Grand City Surabaya menjadi pusat perayaan itu. Bank Jatim Jazz Traffic Festival kembali hadir dengan tiga panggung, sederet nama tenar, dan yang tak kalah penting: menghadirkan ruang bagi regenerasi. Festival ini bukan hanya agenda tahunan—digelar kali pertama 27-28 November 2011, kini memasuki pergelaran ke-12, buah konsistensi dari Suara Surabaya Media sebagai penyelenggara. Jazz Traffic, festival yang awalnya adalah program siaran di Radio Suara Surabaya, kini sudah menjelma jadi salah satu tonggak identitas budaya Surabaya.
Festival musik selalu penting dan lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah cara kota menunjukkan diri kepada dunia. Ia bukan hanya soal hiburan. Meski tak ada yang menyangkal, dua hari menonton Ardhito Pramono, The Lantis, Raisa, Sheila Majid, Denny Cak Nan, Daun Jatuh, Bernadya, atau kolaborasi lintas-genre memang menyenangkan. Namun, lebih dari itu, festival adalah penanda bahwa kota masih punya denyut budaya. Tanpa festival, Surabaya akan terasa monokrom dan kaku: kota pabrik, kota pelabuhan, kota kerja. Alangkah membosankannya Surabaya tanpa musik.
Dengan festival musik, Surabaya bisa bernapas lebih lega, bergerak lebih liat: ia menjadi kota pertemuan, kota cerita, kota yang memungkinkan warganya merayakan kebersamaan dan kehidupan—baik manis atau pahit, toh semua layak dirayakan—melalui musik.

Be Yourself: Panggung untuk Semua Suara
Tahun ini, Jazz Traffic mengusung tema ”Be Yourself”. Tema yang pas dan mengirim pesan jelas: semua warna boleh tampil, semua suara boleh bersuara. Dan asyiknya, telinga kita seperti nyambung saja. Jazz menjadi benang merah, dan lalu kita memintal kain menjadi jauh lebih besar: mungkin karena intinya bukan pada genrenya, tapi suasananya.
Namun yang paling menarik bukan hanya deretan bintang. Ada cerita lain yang tak kalah penting: panggung regenerasi yang dimulai dengan kompetisi band sebelum festival bermula. Dari sana, muncul D’Luvino, band anak-anak kelas 3 SMP. Bayangkan, anak-anak usia belasan terlibat di festival yang sudah punya nama besar. Pengalaman yang akan menjadi tetenger awal karir musik mereka. Kehadiran mereka mengirim isyarat: regenerasi sangat penting.
Jazz Traffic juga menghadirkan band yang sedang naik daun: Wijaya 80. Membawa semangat musik era 1980-an, lengkap dengan isian keyboard dan synth yang menguarkan aura musik city pop nan kental. Kehadiran mereka bisa menggaet dan mengolaborasikan dua segmen penonton: anak-anak muda yang mengenal trio ini lewat media sosial dan streaming platform, dan mereka yang berusia lebih senior dan rindu dengan musik era Fariz RM, Chaseiro, Hemi Pesulima, hingga Utha Likumahuwa. Saya beruntung bisa berfoto bersama salah seorang personilnya, Hezky Joe.

Ada pula Pawitra, band pop jazz yang sekaligus sebagai penanda bahwa talenta Surabaya tidak hanya dilihat sebagai pengisi jeda, tapi bagian dari festival itu sendiri. Inilah yang membuat Jazz Traffic berbeda: keberanian menempatkan musisi muda lokal dalam festival yang berisikan para legenda.
Surabaya punya sejarah panjang dalam musik Indonesia. Dari era rock, pop, hingga jazz. Kota ini melahirkan banyak nama besar. Dalam konteks jazz, Surabaya adalah kawah candradimuka bagi nama-nama raksasa, di antaranya Chen Bersaudara (Bubi, Jopie, dan Teddy), Maryono, dan tentu saja Jack Lesmana. Bubi Chen pernah terlibat dalam siaran Jazz Traffic di Radio Suara Surabaya. Bubi, Jack, Jopie, dan Maryono, kelak membentuk Indonesian All Stars bersama Benny Mustapha. Kelompok ini melahirkan Djanger Bali (1967) bersama Tony Scott—saya mendengarnya melalui Youtube—yang lahir dari kolaborasi imajinasi dan keberanian untuk menautkan jazz dan nada khas Nusantara.
Meski kita diajarkan untuk tidak melupakan sejarah, sayangnya, sejarah tidak menjamin masa depan. Tanpa panggung, anak muda hanya bisa bermain di studio. Festival adalah kawah candradimuka, tempat menempa kompetensi, palagan uji nyali, serta merajut koneksi. Jika kita ingin Surabaya terus punya musisi besar, panggung macam Jazz Traffic harus terus ada.
Dampaknya tidak berhenti di musik. Festival menggerakkan roda ekonomi kota. Hotel penuh, transportasi ramai, pedagang makanan laris, merchandise jadi buruan. Multiplier effect nyata: dari pekerja teknis panggung, vendor lokal, sampai petugas parkir.

Jazz Traffic: Cara Lain Surabaya Memperkenalkan Diri
Surabaya butuh cara untuk mengatakan pada dunia bahwa dirinya bukan hanya kota bisnis belaka. Jazz Traffic adalah cara lain Surabaya memperkenalkan dirinya: sebuah kota yang punya komunitas, punya kreativitas, dan punya generasi baru musisi yang siap tumbuh.
Musik jazz, dengan sifatnya yang cair dan penuh improvisasi, terasa pas untuk menggambarkan Surabaya hari ini. Kota ini keras, penuh tantangan, tapi juga penuh kejutan. Hidup di Surabaya menuntut kita beradaptasi, mencari ritme, menemukan harmoni di tengah hiruk-pikuk. Dan di tengah-tengah tuntutan itu, musik hadir.
Dan itulah yang dirayakan di Jazz Traffic.
Ribuan orang berkumpul, bukan hanya untuk mendengar musik, tapi untuk merasakan bahwa kota mereka hidup. Bahwa di balik gedung-gedung perkantoran dan jalanan sibuk, ada musik yang mengalun. Bahwa Surabaya, dengan segala keseriusannya, masih tahu cara merayakan hidup.
Festival musik, pada akhirnya, adalah bagian dari denyut nadi kota. Jazz Traffic Festival, dari tahun ke tahun, seperti doa yang diucapkan berulang—menjaga ingatan kita bahwa Surabaya juga punya jiwa, bukan semata mesin industri. Mungkin kelak, Surabaya dikenal bukan hanya karena perdagangan dan pelabuhan—juga pasti Persebaya, tetapi juga karena musiknya (lagi). Jika hari itu tiba (lagi), kita tahu: Jazz Traffic telah lama menjadi benih yang diam-diam tumbuh. (DEN)
