Unusa Kukuhkan 4.875 Mahasiswa Baru, Rektor Tekankan Akhlak dan Intelektual

oleh -217 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengukuhkan 4.875 mahasiswa baru melalui kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025, termasuk 3.000 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jumlah ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Unusa, sekaligus menandai perkembangan signifikan penerimaan mahasiswa dari tahun ke tahun.

Ketua LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Savitri, S.E., M.M., menyampaikan apresiasinya. “Di usia perguruan tinggi yang masih imut, Unusa sudah berhasil meraih akreditasi unggul. Jumlah mahasiswa baru yang awalnya 3.000 kini bertambah menjadi 4.875 yang dikukuhkan hari ini. Ini adalah sejarah baru karena Unusa selalu berkembang dalam prestasi dan segmentasi mahasiswanya semakin jelas,” ujarnya.

Dyah juga berpesan agar mahasiswa menjaga integritas serta kedewasaan dalam menyampaikan aspirasi. “Kami berharap mahasiswa tidak mudah terprovokasi. Jadilah mahasiswa yang kritis, santun, konstruktif, dan rasional. Setiap gerakan harus mencerminkan identitas akademik yang intelektual dan almamater,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya 3K bagi mahasiswa: menjaga Komunikasi dengan siapapun, mampu melakukan Koordinasi untuk mencapai tujuan, serta pandai Kolaborasi dalam berbagai bidang kehidupan.

Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis), Prof. Dr. Ir. K.H. Mohammad Nuh, DEA., menegaskan mahasiswa Unusa mencerminkan rasa syukur, kebanggaan, dan masa depan. “Kalian harus bersyukur menjadi mahasiswa Unusa, karena tidak semua mendapat kesempatan ini. Mungkin Unusa bukan pilihan pertama, tapi takdir menunjukkan bahwa kuliah di Unusa adalah pilihan terbaik,” tegasnya.

Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., menyebut momentum pengukuhan mahasiswa baru adalah anugerah yang patut disyukuri. “Hari ini kita mengukuhkan sekaligus menyambut 4.875 mahasiswa baru, termasuk mahasiswa asing dari Filipina, Malaysia, dan Timor Leste. Jumlah ini masih akan bertambah karena ada yang baru melakukan pendaftaran ulang,” katanya.

Baca Juga :  UNISMA dan UNAIR Mengumumkan INOVASI Kolaborasi untuk Penguatan Karakter Unggul dan Satgas Anti Perundungan di Kampus

Ia menggambarkan perjalanan mahasiswa seperti proses melukis kehidupan. “Mulai hari ini kalian akan memulai kehidupan baru, mulai melukis masa depan. Lukisan itu bisa diperbaiki, direvisi, hingga menjadi karya indah hasil jerih payah kalian. PKKMB membantu kalian beradaptasi dengan dunia kampus, membangun visi yang jelas dengan nilai moral dan agama sebagai pijakan utama,” ujarnya.

Jazidie menambahkan pembelajaran di Unusa tidak hanya menekankan hardskill, tetapi juga softskill. “Mahasiswa Unusa harus membangun habit untuk terus mengembangkan potensi terbaiknya, baik di dalam kelas maupun di luar kelas,” jelasnya. Dengan pengukuhan ini, Unusa meneguhkan komitmennya mencetak generasi unggul yang tidak hanya berprestasi akademik, tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Rangkaian acara juga menghadirkan kuliah tamu Direktur Utama Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, bertajuk “Understanding Indonesia Today and Tomorrow”. Ia menekankan peran penting generasi muda dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, Indonesia saat ini berada pada momen penting, yaitu bonus demografi. Berdasarkan sensus penduduk 2020, mayoritas masyarakat adalah Gen Z dan sebagian milenial. “Gen Z itu ibarat anak kandung internet, mereka begitu dekat dengan dunia digital dan media sosial. Rata-rata penggunaan internet pada generasi ini lebih dari delapan jam per hari,” jelasnya.

Hasanuddin mengingatkan bahwa digitalisasi membawa tantangan sekaligus peluang. “Jadikanlah AI sebagai alat untuk berkolaborasi, bukan sebagai pengendali diri kita,” tegas alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu.nIa juga menyinggung kesenjangan antar generasi yang kerap dipersepsikan salah. “Banyak stigma bahwa gen z tidak punya loyalitas, atau gen x tidak cocok menjadi rekan kerja gen z. Itu tidak benar. Bagaimanapun kita harus tetap beradaptasi pada zaman. Karena setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya,” ujarnya.

Baca Juga :  Aturan PPDB SMPN 2024 di Kota Surabaya, Ada Penyesuaian Daya Tampung Sekolah Jalur Zonasi

Berdasarkan survei terbaru, kata Hasanuddin, anak muda terbagi menjadi tiga tipe: social butterfly atau si paling eksis (16,06%), digital junky atau si digital banget (39,7%), serta slow living atau si santai abis (44,7%). “Ketiga tipe ini harus berkolaborasi karena masing-masing punya keunggulan yang dapat mendorong keberhasilan Indonesia di masa depan,” jelasnya. “Indonesia ini merupakan zamrud khatulistiwa yang harus kita jaga, rawat, dan isi dengan karya-karya kita. Karena anak muda adalah penentu Indonesia Emas 2045,” pungkas Hasanuddin.(tok)