Unusa Ambil Sumpah 136 Guru PPG, Rektor Tekankan Pentingnya Peran Guru di Era Digital dan AI

oleh -374 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Sebanyak 136 calon guru resmi diambil sumpah profesi dalam kegiatan Yudisium dan Sumpah Profesi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang 2 Tahun 2024 yang diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Acara berlangsung di Auditorium Lantai 9 Tower Kampus B Jemursari, Kamis (21/8/2025).

Program PPG di Unusa sendiri terdiri dari dua jalur, yakni PPG Prajabatan (Calon Guru) dan PPG Dalam Jabatan (Guru Tertentu). PPG Prajabatan diperuntukkan bagi lulusan S1/D4 kependidikan maupun non-kependidikan yang belum menjadi guru tetap, dengan masa studi dua semester berupa kuliah, praktik mengajar, dan ujian kompetensi. Lulusannya akan memperoleh sertifikat pendidik yang dapat digunakan untuk melamar menjadi guru PNS/PPPK.

Sementara itu, PPG Dalam Jabatan ditujukan bagi guru yang sudah aktif mengajar (ASN maupun non-ASN) namun belum tersertifikasi. Karena telah berpengalaman, program ini ditempuh lebih singkat, yaitu satu semester. Lulusannya berhak mendapatkan sertifikat pendidik yang digunakan untuk memperoleh Tunjangan Profesi Guru (TPG).

Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan besar sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. “Teknologi digital memang menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam proses pembelajaran. Tantangan ini harus dihadapi dengan bijak agar media pembelajaran benar-benar bermanfaat dan memberi dampak jangka panjang bagi peserta didik,” terang Jazidie.

Ia menekankan bahwa guru tidak boleh hanya menyalahkan murid dalam menghadapi perubahan zaman. “Kita tidak bisa menyalahkan murid. Justru guru yang harus bisa menerima kondisi tersebut dan mengarahkannya dengan tepat,” tambahnya.

Lebih jauh, Prof. Jazidie menyoroti peran penting guru di tengah hadirnya teknologi AI. “AI memang mampu menghadirkan pengetahuan dengan cepat dan mudah, tetapi AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam berinovasi, berempati, dan membangun karakter,” jelasnya.

Baca Juga :  Dokter Baru Unusa Diminta Jaga Integritas di Era AI

Karena itu, menurutnya, guru dituntut tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik. “Tantangan terbesar guru saat ini adalah bagaimana mendidik murid agar terbiasa berempati, mudah memberikan pertolongan, serta mampu bekerja sama dengan orang lain. Nilai-nilai inilah yang harus dibangun sejak dini, sehingga perkembangan teknologi tidak menggerus karakter, tetapi justru memperkuat kualitas generasi penerus,” pungkas Jazidie.(tok)