KILASJATIM.COM, Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga Surabaya mewaspadai potensi hujan lokal yang diprakirakan masih terjadi hingga 21 Agustus 2025. Fenomena ini cukup jarang karena berlangsung di tengah puncak musim kemarau.
Prakirawan BMKG Juanda, menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang memicu hujan lokal. Pertama, adanya gangguan atmosfer skala rendah serta pengaruh fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) yang menyebabkan suplai uap air basah masuk ke wilayah Jawa Timur. Kedua, kelembapan udara yang tinggi dari permukaan hingga lapisan atas, sehingga memicu pembentukan awan konvektif.
“Akibatnya, meski kemarau, masih ada potensi hujan dengan intensitas bervariasi. Ada wilayah yang hanya diguyur hujan ringan, tapi ada juga yang berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang,” kata prakirawan dalam keterangannya, Rabu (20/8).
BMKG memperkirakan kondisi ini bersifat sementara dan akan berakhir pada 21 Agustus. Mulai 22 Agustus, cuaca Surabaya diprediksi kembali panas dan kering sesuai pola kemarau.
Selain membawa hujan, fenomena ini juga berdampak pada suhu udara. Siang hari terasa lebih sejuk dengan suhu rata-rata 30–31 derajat Celsius. Setelah hujan lokal berakhir, suhu diperkirakan naik sedikit menjadi 30–32 derajat Celsius.




