Kekayaan Alam Tahura Raden Soerjo Terancam Perburuan dan Kebakaran

oleh -597 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Batu — Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo di kawasan pegunungan Arjuno-Welirang dan Anjasmoro, Jawa Timur, menyimpan kekayaan ekologis dan spiritual yang luar biasa. Namun, di balik pesonanya sebagai paru-paru hijau seluas 27.800 hektare, kawasan konservasi ini menghadapi ancaman serius: perburuan liar, pembalakan, dan kebakaran hutan.

Sebagai salah satu kawasan konservasi terbesar di Jawa Timur, Tahura Raden Soerjo tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi dan budaya masyarakat. Di dalamnya terdapat 153 mata air yang menopang kebutuhan air bersih bagi lebih dari 40 ribu kepala keluarga di enam wilayah sekitar: Malang, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Kediri, dan Kota Batu.

“Ini bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga ruang hidup dan spiritual,” ujar Sadrah Devi, Kepala Seksi Perencanaan, Pengembangan, dan Pemanfaatan UPT Tahura Raden Soerjo, saat ditemui di Pemandian Air Panas Cangar, Rabu (30/7/2025).

Menurut Sadrah, Pemandian Air Panas Cangar menjadi destinasi unggulan dengan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) mencapai Rp4 hingga Rp5 miliar per tahun. Jumlah pengunjung mencapai sekitar 200 ribu wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Namun, kawasan ini juga menyimpan kekayaan non-materi yang tak kalah penting. Beberapa titik di dalam Tahura dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas spiritual, seperti semedi dan doa. Bahkan, zona khusus bernama “blok religi” disediakan untuk menjaga kelestarian budaya tersebut. Sejumlah lokasi dipercaya merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit, memperkuat daya tarik historis dan mistis kawasan.

Kendati berstatus kawasan konservasi, praktik perburuan liar masih sering terjadi. Para pemburu menggunakan jaring sepanjang hingga satu kilometer atau senapan angin untuk menangkap satwa. Lebih berbahaya lagi, mereka sering bermalam di dalam hutan dan membuat api unggun, yang meningkatkan risiko kebakaran.

Baca Juga :  Pemerintah Desa Ramban Kulon Klarifikasi Proyek Pembangunan Jalan dan TPT

“Dampaknya sangat besar. Kebakaran hutan membuat debit mata air menurun drastis karena rusaknya tutupan vegetasi,” jelas Sadrah.

Beberapa satwa endemik yang hidup di kawasan ini meliputi Lutung Jawa, Burung Rangkong, dan Macan Tutul—yang hingga kini masih terpantau di sejumlah titik. Selain itu, terdapat pula kijang, jelarang, dan trenggiling. Sayangnya, sebagian besar satwa tersebut diburu, baik untuk dijual maupun untuk koleksi pribadi.

Meski sejumlah pelaku perburuan telah diproses hukum, efek jera dinilai masih rendah. Banyak yang kembali melakukan pelanggaran dengan alasan ekonomi.

“Kerugian ekologis tidak bisa dihitung dengan uang. Kerusakan satu rantai bisa merusak keseluruhan ekosistem,” tegas Sadrah.

Kawasan Tahura Raden Soerjo bukan hanya kawasan wisata atau konservasi biasa, melainkan warisan alam yang menjadi penopang hidup, budaya, dan kepercayaan masyarakat sekitar.

“Menjaganya berarti menjaga masa depan lingkungan dan generasi berikutnya, ” harapnya. (FRI)

No More Posts Available.

No more pages to load.