Penulis : Pranata Humas Ahli Muda Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur – I Gede Alfian Septamiarsa
KILASJATIM.COM, Surabaya – Setiap orang memiliki cara unik untuk mengenal dirinya sendiri. Ada yang melakukannya lewat refleksi, ada pula lewat interaksi sosial. Namun, satu cara yang sering kali terlupakan namun sangat ampuh adalah menulis.
Saya sendiri saat ini mulai keranjingan menulis dalam berbagai perspektif, utamanya menggunakan pendekatan kehumasan. Yang mana saya terbiasa dengan framework humas sejak saya berada di lingkup pemerintahan.
Dimulai dari hal-hal kecil yang kita jumpai saat liputan, atau sedang mengunjungi suatu lokasi. Bahkan dari celetukan dari pejabat atau narasumber juga bisa menjadi bahan tulisan.
Ketika saya terlintas ide tulisan, langsung saya tuangkan pada aplikasi notes yang ada di telepon genggam saya. Karena begitu lewat momen tulisan itu, bisa saya menguap tanpa berbekas. Dan akhirnya kita tidak tahu apa yang akan kita tulis. Namun dengan metode langsung dituangkan seberapapun paragrafnya, itu akan sangat membantu untuk merangkai kata pada tulisan kita.
Menulis bukan hanya soal menuangkan ide atau merangkai kata. Bagi sebagian orang, menulis adalah bentuk kegemaran, penyaluran bakat, bahkan dapat meredakan stres dan menata emosi. Di balik aktivitas ini, ada proses diam-diam yang bekerja yaitu proses mengenal siapa diri kita sebenarnya.
Menulis adalah cermin. Apa yang kita tulis, cara kita menulis, hingga pilihan kata dan sudut pandang yang kita ambil, semuanya merupakan pantulan dari kepribadian kita. Saat menulis, kita sebenarnya sedang mengekspresikan nilai-nilai, keyakinan, dan kecenderungan emosional yang membentuk diri kita sehari-hari.

Menentukan cara mendefinisikan kepribadian memang tidak selalu mudah. Kepribadian manusia itu kompleks, dinamis, dan terus berkembang. Namun, mengenali kepribadian sendiri sangat penting untuk membantu kita memahami bukan hanya diri kita sendiri, tetapi juga bagaimana kita berhubungan dengan orang lain.
Dengan mengenal kepribadian diri, kita bisa fokus pada sifat-sifat positif yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kita juga bisa lebih sadar akan sifat-sifat negatif yang perlu diperbaiki. Pada dasarnya, setiap orang memiliki sisi terang dan sisi gelap. Menulis memberi kita ruang untuk berdialog dengan keduanya.
Sebagai contoh, seseorang yang cenderung introvert mungkin mengekspresikan diri dengan lebih bebas melalui tulisan personal atau puisi.
Sementara itu, seseorang yang berpikir sistematis mungkin tertarik menulis esai atau opini berbasis data. Dengan kata lain, gaya dan tema tulisan seseorang dapat mencerminkan aspek-aspek dari kepribadian dominannya.
Kini, berbagai sistem juga dapat membantu kita dalam mendefinisikan dan mengeksplorasi kepribadian seperti MBTI, DISC, atau Talent DNA. Namun, jika Anda ingin cara yang lebih organik dan reflektif, mulailah dari diri sendiri. Tulislah tentang siapa Anda, apa yang Anda rasakan, dan bagaimana Anda memandang dunia. Dari situ, Anda akan melihat pola, kecenderungan, dan keunikan pribadi Anda yang tidak bisa dibaca dari tes kepribadian manapun.
Ketika kita sering menulis maka ciri khas tulisan kita juga akan tampak dengan sendirinya. Misal kita konsennya ke pendidikan dengan pendekatan teoritis, mulai dari angle, isi badan tulisan hingga akhir sudah bisa dapat diketahui tulisan siapa yang menulis.
Akhirnya, menulis bukan hanya soal mengisi lembaran kosong dengan kata-kata, tetapi juga mengisi ruang kosong dalam diri kita dengan pengertian yang lebih dalam. Maka, jika Anda ingin lebih mengenal siapa Anda sebenarnya, ambillah pena, buka halaman kosong dan menulislah.
Tidaklah salah jika semboyan atau motto “Aku Menulis, Maka Aku Ada” merupakan jiwa korsanya ilmuwan. Karena dengan tulisanlah mereka meninggalkan jejak jaman pada masanya, dan ini akan dibaca sepanjang masa oleh penerus generasi manusia.
