IPK Sempurna, Kompetensi Sempoyongan? Kampus Perlu Waspada Inflasi Nilai

oleh -291 Dilihat

KILASJATIM.COM, SURABAYA – Fenomena lonjakan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) di kalangan mahasiswa Indonesia terus jadi sorotan. Nilai-nilai nyaris sempurna kini bukan lagi hal langka. Tapi, apakah ini pertanda kualitas pendidikan semakin baik, atau justru gejala inflasi akademik yang mengancam?

Menurut Prof. Dr. Juliana Anggono, S.T., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Akademik Petra Christian University (PCU), tren ini mulai terlihat sejak pandemi COVID-19. Peralihan ke pembelajaran digital memang membuka akses belajar yang lebih fleksibel, tapi juga menimbulkan pertanyaan besar soal validitas penilaian. “IPK tinggi belum tentu setara dengan kompetensi nyata. Banyak faktor, seperti standar penilaian yang longgar dan asesmen yang belum seragam,” ujar profesor Teknik Mesin yang juga pakar green manufacturing ini.

Salah satu tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini adalah menjaga IPK tetap relevan sebagai indikator capaian mahasiswa. Ketika IPK dijadikan tolok ukur utama, kampus bisa terjebak dalam logika angka, bukan kualitas. Prof. Juliana mengingatkan, dunia kerja lebih mengapresiasi keterampilan riil seperti problem solving, kolaborasi, adaptasi, hingga empati, bukan semata predikat cum laude di atas kertas. “Mahasiswa yang cemerlang secara akademis belum tentu siap menghadapi dunia profesional jika tidak dibekali kemampuan interpersonal yang memadai,” tegasnya.

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sejatinya memberi peluang pembelajaran di luar ruang kelas melalui magang, riset, hingga pengabdian masyarakat. Namun, implementasi di lapangan belum ideal. Banyak dosen belum mendapat pelatihan memadai dalam menyusun asesmen alternatif yang adil dan kredibel. Hal ini membuat mutu pembelajaran antar perguruan tinggi makin bervariasi, bahkan timpang.

Menanggapi tantangan ini, PCU menerapkan pendekatan kurikulum Whole Person Education. Di sini, mahasiswa tak hanya dinilai lewat IPK, tapi juga lewat Satuan Kredit Kegiatan Kemahasiswaan (SKKK), meliputi aspek spiritual, sosial, emosional, hingga kepemimpinan. “Kami ingin mahasiswa tumbuh utuh, tidak hanya pintar di kelas, tapi juga matang secara karakter,” terang Prof. Juliana.

Baca Juga :  Bamantara Eepisat PENS Juara 2 di Cansat 2023

Selain kegiatan Service-Learning, mahasiswa PCU juga diwajibkan aktif dalam kegiatan organisasi dan proyek sosial sebagai bagian dari penilaian kelulusan. Rektor PCU Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. menegaskan komitmen kampus untuk mencetak Global Socioleaders, lulusan berdaya saing global yang tidak hanya unggul secara akademis, tapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Lonjakan IPK bisa terlihat mengesankan di atas kertas, namun dunia nyata menuntut lebih dari sekadar angka. Di tengah tren inflasi nilai, tantangan utama perguruan tinggi Indonesia hari ini adalah memastikan setiap digit IPK berdiri di atas kompetensi yang utuh dan teruji.(tok)