KILASJATIM. COM, Surabaya – Wali Kota Eri Cahyadi memimpin langsung operasi jam malam bagi anak dibawah umur 18 tahun.
Dengan menggunakam sepeda motor, Eri bersama petugas gabungan dari kepolisian, Satpol PP serta Dishub menyisir taman, tempat kumpul yang biasa dikunjungi anak-anak serta ramai dikunjungi warga.
Sesampai di Kota Lama, Eri tidak menemukan anak dibawahbumur 18 tahun. NamunEri menemukan sekelompok pemuda yang berprofesi sebagai tukang foto.
“Titip, titip. Nek ono arek dibawah umur, pacaran tolong ilengno. Titip Suroboyo(Titip, tirip. Kalau ada anak dibawah umur pacaran tolong diingatkan. Titip Surabaya), ” kata Eri pada para tukang foto keliling, Jumat (4/7/2025) dinihari.
Eri pun melanjutkan operasi jam malam dan menemukan sekelompok pemuda yang salah satunya masih dibawah umur.
Ia pun langsung menghampiri dan meminta untuk melakukan sambungan video dengan orangtuanya karena saat diminta kartu identitas tidak memiliki.
“Bu anak’e tolong diurusno KTP wes umur piro. Iki anak’e sek dibawah umur, gak sampean golek’i wes bengi gurung mole. Urusno KTP, terus luweh perhatian mane nang anak’e. Wes ngono ae yo (Bu, anaknya tolongbdiuruskan KTP sudah umur berapa. Ini anaknya masih dibawah umur kok tidak dicari meski sudah malam dan belum pulang. Toling uruskan KTP, terus levlbih perhatian sama anaknya, sudah gitu saja ya), ” ujar Eri menutup sambungan telepon video dengan orang tua pemuda tersebut.
Eri menyebut langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap generasi muda, bukan sebagai upaya pembatasan kebebasan. Dalam arahannya, Wali Kota Eri menegaskan pemerintah hadir untuk menjaga dan memastikan keselamatan anak-anak Surabaya, khususnya di malam hari.
“Kita hari ini datang, berkeliling, bukan untuk mengekang anak muda, namun kita turun untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak kita. Jangan sampai ada anak-anak yang pacaran, minum-minuman keras, atau sampai boncengan tiga, apalagi lewat jam 10 malam, ” ujarnya.
Operasi ini bukan berbasis penindakan, melainkan pendekatan persuasif. Petugas akan menegur dan mengarahkan anak-anak yang masih berada di luar rumah setelah pukul 22.00 WIB. Bila diperlukan, mereka juga akan diantar pulang ke rumah masing-masing.
“Kalau pun ada yang masih berada di jalan, kita antarkan anak-anak ini pulang kepada orang tuanya,” jelas Eri, yang juga ayah dari dua anak.
Eri juga mengajak orang tua untuk lebih terlibat dalam pengasuhan anak-anak mereka.
“99 persen anak yang pernah terjaring oleh Satpol PP, kepolisian, atau TNI merupakan anak yang kurang mendapatkan perhatian di keluarganya. Karenanya, kalau sampai ada anak-anak yang belum pulang pada waktunya, saatnya kita introspeksi,” tutup Eri.




