KILASJATIM.COM, Surabaya – Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mengapresiasi Provinsi Jawa Timur sebagai provinsi percontohan dalam penerapan Undang-Undang Perumahan dan Permukiman. Penilaian ini disampaikan saat kunjungan kerja Komite II DPD RI ke Gedung Negara Grahadi, Rabu malam (02/07/2025), dalam rangka pengawasan terhadap implementasi regulasi tersebut yang telah diperbarui melalui Perpu Cipta Kerja.
Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menetapkan Jawa Timur sebagai provinsi percontohan nasional dalam penerapan Undang-Undang Perumahan dan Permukiman. Penilaian ini disampaikan dalam kunjungan kerja ke Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu malam (2/7/2025), sebagai bagian dari agenda pengawasan pelaksanaan UU tersebut pascarevisi melalui Perpu Cipta Kerja.
Ketua Komite II DPD RI, Badikenita Putri Beru Sitepu, menilai Jawa Timur berhasil mengintegrasikan pembangunan permukiman dengan sektor industri, transportasi, dan ketahanan pangan secara efektif.
“Penataan ruang di Jawa Timur terarah dan mendukung hunian yang layak, terintegrasi, serta berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang rumah, tapi juga tentang menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan lintas sektor yang diterapkan Jawa Timur—dari kesiapan infrastruktur hingga keterhubungan antardaerah—sejalan dengan semangat DPD RI untuk mendorong kebijakan pembangunan yang adil, partisipatif, dan adaptif.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti sejumlah capaian strategis daerahnya, terutama di sektor industri dan pangan. Menurutnya, kontribusi industri manufaktur Jawa Timur telah mencapai 35 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional—melewati target nasional sebesar 30 persen.
Di sektor ketahanan pangan, Jawa Timur tampil sebagai produsen utama. Produksi padi dan beras konsisten menjadi yang tertinggi secara nasional, sementara kontribusi terhadap kebutuhan gula nasional mencapai 51,87 persen. Produktivitas gula pun mencapai 20 ton per hektare, jauh melampaui rata-rata nasional 5 ton.
“Jawa Timur telah melampaui ketahanan pangan dan menuju kedaulatan pangan. Kami bisa mencukupi kebutuhan sendiri, bahkan menyuplai provinsi lain,” kata Khofifah. “Populasi sapi potong kami mencapai 5 juta ekor, tertinggi di Indonesia. Ini menunjukkan sinergi antara sektor pangan dan permukiman bisa diwujudkan secara nyata.”
Tak hanya itu, sektor pariwisata juga mencatat pertumbuhan signifikan. Dalam tiga tahun terakhir, kunjungan wisatawan domestik ke Jawa Timur menjadi yang tertinggi secara nasional, sementara wisatawan mancanegara tumbuh 78 persen hingga pertengahan 2025.
Kunjungan kerja ini diharapkan menjadi awal penguatan sinergi pusat-daerah dalam mendorong pembangunan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan. Selain itu, sukses Jawa Timur diharapkan dapat direplikasi ke provinsi lain sebagai model pembangunan permukiman berbasis integrasi sektor dan keberlanjutan.




