Ingin Kerja di Jepang? Coba Sektor Kehutanan Jepang!

oleh -1650 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Angkatan kerja di Indonesia semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran di Tanah Air mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025. Ketatnya persaingan, terbatasnya lapangan kerja, dan ketimpangan keterampilan kerap menjadi hambatan utama. Di tengah tantangan ini, bekerja di Jepang menjadi opsi yang makin dilirik generasi muda Indonesia.

Laporan Nikkei Asia pada tahun 2023 mencatat, lebih dari 121 ribu tenaga kerja Indonesia telah bekerja di Jepang. Jumlah itu diprediksi terus bertambah seiring dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja asing di berbagai sektor. Salah satu sektor yang sangat kekurangan tenaga kerja adalah kehutanan, di mana mayoritas pekerja saat ini telah memasuki usia lanjut. Ini menjadi peluang bagi para pencari kerja di Indonesia untuk mendapat kesempatan merintis karier di bidang yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Peluang Kerja Sektor Kehutanan Jepang

Saat ini, Jepang hanya memiliki sekitar 44.000 pekerja hutan aktif, turun 16% dalam satu dekade terakhir. Untuk mengatasi kekurangan ini, pemerintah menargetkan 1.000 tenaga asing di bidang kehutanan dan 5.000 lainnya di industri kayu hingga 2029. Kebijakan penanaman ulang 70.000 hektare per tahun turut mendorong permintaan operator tebang-tanam yang terampil.

Prospektus Bekerja di Sektor Kehutanan Jepang

Bekerja di sektor kehutanan Jepang menawarkan prospek yang menjanjikan, baik dari sisi pendapatan maupun kualitas hidup. Rata-rata gaji yang ditawarkan untuk pekerja hutan adalah ¥200.000 per bulan (sekitar Rp21–22 juta). Selain itu, pekerja juga mendapatkan berbagai tunjangan seperti asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, serta pelatihan bahasa untuk mendukung adaptasi. Untuk forester profesional, juga bisa menerima bonus tahunan setara 1–2 bulan gaji serta tunjangan tempat tinggal di daerah terpencil.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi KBS 2013-2024, Wali Kota Eri Akui Minta Kejati Lakukan Audit

Jika hidup hemat dengan pengeluaran bulanan sekitar ¥80.000–¥100.000 (Rp8,5–10,5 juta), masih ada ruang luas untuk menabung sambil menikmati standar hidup yang layak. Ini menjadi opsi ideal bagi lulusan Indonesia yang ingin bekerja di Jepang.

Jenis Visa untuk Bekerja di Sektor Kehutanan Jepang

Bagi tenaga kerja Indonesia yang ingin bekerja di Jepang, khususnya sektor kehutanan, bisa menggunakan visa Specified Skilled Worker (SSW). Skema ini berlaku selama 5 tahun (SSW i) dan dapat diperpanjang ke SSW ii tanpa batas waktu.

Ada juga opsi Technical Intern Training Program (TITP) yang berlangsung 1–3 tahun. Namun biasanya terbatas pada tugas-tugas dasar seperti penanaman pohon dan tidak sefleksibel SSW dalam hal karier jangka panjang.

Cara Kerja di Sektor Kehutanan Jepang

Untuk bekerja di Jepang sebagai forester, ada beberapa tahap yang perlu dilakukan. Berikut alur singkatnya:

  • Penuhi kualifikasi dasar: minimal lulusan SMK/sarjana kehutanan dengan kondisi fisik prima.
  • Ikuti pelatihan prakerja khusus kehutanan: meliputi bahasa Jepang, keselamatan kerja, serta penguasaan mesin tebang dan tanam. Lembaga seperti Nosuta menyediakan pelatihan intensif selama 6 bulan lengkap dengan praktik lapangan.
  • Ambil ujian SSW Forestry Jepang (ujian keterampilan + bahasa Jepang minimal JLPT N4).
  • Urus dokumen dan visa dan Certificate of Eligibility (COE): Jika kamu ikut lembaga penyalur tenaga kerja seperti Nosuta, mereka akan turut membantu proses ini secara menyeluruh.
  • Berangkat ke Jepang: setelah mendapat kontrak kerja dan izin tinggal, Anda siap terjun langsung di hutan-hutan Jepang.

 

Dengan pelatihan dan pendampingan yang tepat, peluang kerja di Jepang dalam bidang kehutanan jadi lebih terjangkau dan menjanjikan. (ara)