Bupati Sidoarjo Takziah ke Keluarga Korban Longsor Pacet: Tujuh Anggota Keluarga Tewas dalam Satu Mobil

oleh -707 Dilihat

KILASJATIM.COM, Sidoarjo — Suasana duka menyelimuti rumah keluarga korban tanah longsor di Desa Kloposepuh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Sabtu (5/4/2025), Bupati Sidoarjo H. Subandi datang bertakziah sekaligus mengikuti doa tahlil untuk mengenang tujuh anggota keluarga yang tewas dalam tragedi longsor di jalur Pacet, Mojokerto.

Kehadiran Bupati Subandi tak hanya sebagai bentuk belasungkawa pribadi, tetapi juga membawa pesan solidaritas dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Ia didampingi oleh jajaran Forkopimda, termasuk Dandim 0816, Kapolres Sidoarjo, perwakilan Baznas, Dinas Sosial, Camat Sukodono, serta unsur Forkopimka lainnya. Bersama warga dan keluarga, mereka melantunkan doa untuk para almarhum.

“Kami sangat berduka. Semoga Allah SWT menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan dan menerima amal ibadah para korban,” ujar Bupati Subandi dengan nada haru.

Longsor yang terjadi pada Kamis (3/4/2025) di jalur Pacet, Kabupaten Mojokerto, menewaskan sepuluh orang. Tujuh di antaranya berasal dari satu keluarga asal Sidoarjo, yang kala itu tengah dalam perjalanan menggunakan satu kendaraan.

Ketujuh korban yang berasal dari Desa Kloposepuh adalah Masjid Zatmo Setio, Rani Anggraeni (28), Syahrul Nugroho Rangga Setiawan (6), Putri Qiana Ramadhani (2), H. Wahyudi (71), Hj. Jainah (61), dan Saudah (70). Jenazah telah dimakamkan di pemakaman desa setempat.

Bupati Subandi juga mengingatkan masyarakat Sidoarjo untuk waspada, terutama saat bepergian melintasi jalur rawan longsor. “Curah hujan masih tinggi. Saya imbau warga untuk menunda perjalanan jika tidak mendesak, terutama di daerah yang rawan bencana,” pesannya.

Tak hanya duka yang terasa di rumah duka, tetapi juga semangat kebersamaan. Warga sekitar terlihat hadir memberikan dukungan moril, memperkuat ikatan sosial di tengah musibah yang mengguncang.

Baca Juga :  Saatnya Generasi Muda ASEAN Ambil Peran Strategis

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa bencana alam bisa datang kapan saja. Perlu kesiapsiagaan, koordinasi antarlembaga, dan kesadaran masyarakat untuk meminimalkan risiko, terutama di wilayah dengan kerentanan tinggi seperti Pacet. (TAM)