BEI Hentikan Sementara Perdagangan Akibat Penurunan IHSG  5,02 Persen

oleh -1034 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghetikan  sementara bursa saham Indonesia seiring dengan anjloknya  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 5,02 persen ke level 6.146 pada perdagangan Selasa ( 18 Maret 2025).

Dalam siaran resminya BEI  menginformasikan bahwa hari ini  18 Maret 2025 telah terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 11:19:31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) yang dipicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 5%.

Hal ini dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat. Perdagangan

 Lonjakan tekanan jual memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan sementara atau trading halt demi meredam kepanikan pasar. Sejak pembukaan, tanda-tanda pelemahan sudah terlihat. Data perdagangan sesi I mencatat 581 saham anjlok, hanya 105 saham yang menguat, sementara 271 stagnan.

 Total transaksi mencapai Rp3,39 triliun dengan volume perdagangan 13,12 miliar saham dalam 748 ribu transaksi. Baca Juga: Lokasi Penukaran Uang Baru di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik Jelang Lebaran Idul Fitri 2025 DCI Indonesia dan Sektor Utilitas Jadi Beban Terberat Semua sektor terperosok ke zona merah.

 Sektor utilitas mengalami koreksi terdalam dengan penurunan 12,2 persen, disusul sektor bahan baku yang jatuh 9,82 persen. Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi pemberat utama IHSG, merosot hingga menggerus 38,24 indeks poin. Saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy (BREN) dan Chandra Asri Petrochemical (TPIA), turut menambah tekanan masing-masing 30,27 dan 29,71 indeks poin.

Tak hanya sektor energi dan industri, saham perbankan besar pun ikut terseret. Pelemahan ini memperparah sentimen negatif yang sudah membayangi pasar modal sejak awal tahun.

Baca Juga :  Nokia 1 Go Edition Resmi Diluncurkan Dengan Harga Dibawah Rp 1 Juta

Kemerosotan IHSG sejalan dengan survei terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia (UI). Dalam Economic Experts Survey yang dirilis sehari sebelumnya, mayoritas ekonom menilai ekonomi Indonesia mengalami kemunduran signifikan dalam tiga bulan terakhir.

Sebanyak 55 persen responden atau 23 dari 42 ekonom menyatakan ekonomi memburuk. Tujuh di antaranya bahkan menilai kondisi saat ini jauh lebih buruk dibanding kuartal sebelumnya. Sementara itu, hanya satu ekonom yang melihat adanya perbaikan. Kepercayaan ekonom terhadap kondisi ekonomi saat ini pun terbilang rendah.

 Rata-rata skor optimisme hanya 7,71 poin—jauh dari kategori positif. Lebih lanjut, 23 ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat dalam waktu dekat.

 Dampak Sistemik dan Langkah Pemerintah Penurunan tajam IHSG bukan sekadar alarm bagi pasar modal, tetapi juga sinyal peringatan bagi stabilitas ekonomi nasional. Jika tekanan jual terus berlanjut, efek berantai terhadap sektor keuangan dan bisnis tak bisa dihindari. (nov)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.