KILASJATIM.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menargetkan produksi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 12,7 juta ton pada 2025. Target ambisius ini diharapkan tercapai melalui optimalisasi lahan kurang produktif, pemanfaatan teknologi pertanian modern, dan dukungan infrastruktur irigasi. Hal ini ditegaskan Khofifah dalam Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan yang digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (14/3).
Jawa Timur, yang selama lima tahun terakhir konsisten menjadi penghasil beras terbesar di Indonesia, terus berupaya mempertahankan statusnya sebagai lumbung pangan nasional. Pada 2023, produksi padi Jatim mencapai 9,71 juta ton GKP (setara 5,61 juta ton beras). Untuk mencapai target 12,7 juta ton GKP, Khofifah menekankan pentingnya optimalisasi 488.379 hektar lahan kurang produktif dengan pasokan air yang memadai.
“Dengan perbaikan infrastruktur irigasi dan pemanfaatan teknologi, kami yakin target ini dapat tercapai,” ujar Khofifah.
Khofifah menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur irigasi, bendungan, dan waduk untuk mendukung ketahanan pangan. Dua proyek strategis yang menjadi prioritas adalah Bendungan Bagong di Trenggalek dan Bendungan Karangnongko di Bojonegoro. Menurutnya, pasokan air yang stabil akan mengoptimalkan lahan kurang produktif dan meningkatkan hasil panen.
Selain infrastruktur, Gubernur Khofifah juga mendorong adopsi teknologi pertanian modern. Saat ini, proses panen masih banyak dilakukan secara manual oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Dengan menggunakan combine harvester, kehilangan hasil panen dapat ditekan. Selain itu, pengeringan gabah menggunakan bed dryer akan meningkatkan kualitas beras menjadi premium.
“Tanpa pengeringan yang baik, kandungan air dalam gabah bisa menyebabkan peningkatan broken rice (beras patah). Ini menurunkan kualitas beras dari premium menjadi medium,” jelas Khofifah.
Rapat koordinasi tersebut juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas). AHY menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung ketahanan pangan Jawa Timur melalui optimalisasi infrastruktur irigasi.
“Infrastruktur irigasi adalah kunci utama dalam mendukung ketahanan pangan Jawa Timur. Kami akan terus berupaya memastikan pasokan air untuk lahan pertanian,” kata AHY.
Sementara itu, Zulhas memaparkan proyeksi produksi beras nasional dari Januari hingga April 2025 yang mencapai 13,95 juta ton, dengan total konsumsi 10,36 juta ton. Artinya, terdapat surplus 3,59 juta ton. Zulhas meminta para bupati dan wali kota untuk turun langsung ke lapangan sebagai ‘mandor’ panen raya, memastikan seluruh proses berjalan lancar.
“Kami juga akan mengawasi harga bahan pokok menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) untuk mencegah kenaikan harga yang tidak wajar,” tegas Zulhas.
Selain padi, Jawa Timur juga menjadi produsen terbesar untuk jagung, kedelai, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Menjelang HBKN, stok berbagai komoditas pangan ini dalam kondisi aman dan surplus. Khofifah menegaskan, dengan kombinasi kebijakan strategis, dukungan infrastruktur, dan pengawasan ketat, Jawa Timur semakin siap mewujudkan target produksi 12,7 juta ton GKP pada 2025.
“Kami berkomitmen menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi percontohan dalam ketahanan pangan nasional,” pungkas Khofifah.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai, Jawa Timur semakin siap mewujudkan target produksi 12,7 juta ton GKP pada 2025. Langkah strategis ini tidak hanya memperkuat posisi Jatim sebagai lumbung pangan nasional, tetapi juga menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. (FRI)
