Warga Rasakan Manfaatnya, Umrohkan Istri Setelah Beralih ke Jargas

oleh

Bu Tin akhirnya berangkat umroh karena setelah berhasil menghemat biaya dari gas tabung beralih ke jargas

KILASJATIM.COM, Surabaya –
Antusias warga masyarakat Surabaya khususnya terhadap proyek pemasangan jaringan gas yang dilakukan PT Perusahaan Gas Negara (Persero), selaku anak perusahaan sub holding gas bumi dari PT Pertamina (Persero), terlihat dari bertambahnya warga yang berkeinginan agar rumahnya juga bisa terpasang sambungan pipa gas.

Sebelumnya warga ragu atau was was saat ada tawaran jargas ke wilayah  perumahan mereka, namun menyusul setelah merebaknya kabar bakal naiknya harga gas tabung 3 kg menjadi Rp 35 ribu, maka warga pun antusias ingin agar rumahnya juga bisa terpasang jargas. terlebih setelah setelah mengetahui banyak manfaat dan hemat biaya per bulannya jika dibandingkan penggunaan gas tabung 3 kg, maka warga yang sebelumnya tidak berminat menjadi tertarik.

Mujiari (65 th) warga Kampung Malang Kulon I no 17 Surabaya,  yang menggunakan jargas PGN sejak 2 tahun lalu berhasil mengumpulkan selisih dari harga per tabung hingga bisa memberangkatkan istrinya, Sumartini  58 tahun atau lebih akrab dipanggil Bu Tin berangkat Umroh pada Juli 2019 lalu.

Pria yang kesehariannya buka warung kopi dan nasi bungkus di jl Raya Pandegiling ini, mengaku sangat terbantu dengan adanya jargas di wilayahnya.

“Sebelumnya saya menggunakan gas tabung 3 kg dengan menghabiskan per bulannya lebih dari Rp 1 juta untuk keperluan memasak dan usaha warung kopi. Istri saya yang bagian masak nasi bungkus dan aneka gorengan saya yang jaga warung,” kata Mujiari.

Mujiari (kiri) bersama Sumarto (kanan) Sales representatif jargas area Surabaya 

Setelah menggunakan gas bumi Mujiari berhasil menghemat hingga 700 ribu per bulan,karena biaya untuk pemakaian gas bumi hanya sekitar Rp 250 ribu -Rp 300 ribu per bulan.

“Setiap hari saya menyisihkan dengan memasukkan ke celengan Rp50 ribu untuk memenuhi keinginan istri saya berangkat umroh, dan kini sudah terlaksana,” papar bapak dengan tiga orang anak yang satu diantaranya masih menjadi tanggungannya sedangkan dua anak lainnya sudah berumah tangga.

Ternyata keberhasilan Mujiari memberangkatkan umroh istrinya dari hasil menyisihkan uang dari selisih pembayaran dari penggunaan gas tabung ke Gas bumi membuat sebagian tetangganya yang sempat menolak pemasangan jargas di rumahnya menjadi tertarik untuk ikut memasang.

“Pemasangan jargas ini kan  kolektif ada warga yang tidak.mau dipasang, namun setelah tahu hemat dan mudah penggunaannya warga ikutan menyusul. Kami tidak.mempersulit jika ada warga yang mau menyusul .Jika sebelumnya sudah mendaftar dan sudah ada maka biaya sambungan ditanggung sendiri  minimal Rp1 juta atau sesuai material yang dibutuhkan,” jelas Sumarto, sales representatif jargas area Surabaya di lokasi Selasa (10/03/2020)

Ditambahkan Sumarto, untuk jargas yang sudah terpasang di Surabaya total 27 ribu dari jumlah tersebut yang tidak aktif dalam artian rumah tidak ditempati dan kosong sekitar 1 persen.

“Untuk yang tidak aktif hanya dikenakan bayar beban minimal 4 kubik atau sekitar Rp 12 ribu per bulan,” urainya.

Sedangkan target pemasangan jargas di tahun 2020 untuk wilayah Surabaya sekitar 6000 sambungan di wilayah Pacar Keling Tambaksari yang terbagi untuk 2 jalan.

Untuk pemasangan pipa gas ini ada  dukungan dari Pemerintah Kota atau Pemerintah Daerah terhadap program ini sangat perlu dilakukan. Aparat daerah harus memberikan edukasi tentang pentingnya pemasangan jaringan gas tersebut kepada masyarakat, dan yang paling penting adalah meyakinkan ke masyarakat bahwa pemasangan gas tersebut dijamin aman.

Saroni warga keputran menunjukkan jargas yang terpasang di rumahnya sejak 3 tahun lalu sangat membantu aktifitasnya dalam mengerjakan makanan lansia untuk dua RW

Rasa aman dan hemat ini yang dirasakan Saroni 50 th dan istrinya Nuryati warga Keputran Kejambon 3 no 33, sejak 3 tahun terakhir menggunakan gas bumi , sebelumnya menggunakan gas tabung  3 kg tiap harinya minimal 2 tabung.

“Setiap hari saya membuatkan  dan melayani makanan lansia  untuk RW 11 dan RW 13 sebanyak 100 kotak juga jualan nasi bungkus dan melayani pesanan nasi kotak. makanya penggunaan gas tabung sangat cepat dan boros. belum lagi jika tengah malam saat masak elpijinya habis,” kata Nuryati.

Yang hingga saat ini masih mengganjal Nuryati ingin ada tambahan sambungan pipa gas untuk kompornya yang lain mengingat setiap harinya menggunakan dua kompor.

“Satu kompor (2 tungku)  menggunakan jargas dan satunya lagi masih pakai gas tabungkarena saya tidak tahu jika pipa jaringan gas ini bisa dipasang bercabang,” urainya. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *