UNICEF dan LPKIPI Latih 160 Santri dan Remaja Jadi Agen Perubahan

oleh SebarTweet

KILASJATIM.COM, Surabaya – Sebanyak 16 orang calon Fasilitator dari Pesantren dan Forum Anak beserta 14 stakeholder dari unsur Kemenag dan Dinas P3A dari 4 Kabupaten/Kota maupun Provinsi dilatih oleh LPKIPI selama 3 hari mulai tanggal 21 — 23 Maret 2022. Bertempat di Ballroom Hotel Purnama Kota Batu.
DRA. Diana Rimayanti , Sekretaris DP3A Provinsi Jatim mengatakan, 30 peserta ini nantinya akan mengikuti pelatihan bertajuk Pelatihan Bagi Fasilitator Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH) untuk Pesantren, Madrasah dan Forum Anak di Jawa Timur.

“Pelatihan ini bagian daribrangkaian kegiatan yang ada di dalam program “Pencegahan dan penanggulangan kekerasan berbasis Gender (GBV) dan perkawinan anak melalui penguatan norma sosial berbasis masyarakat”, yang merupakan program kerjasama antara Kementerian P3A dan Kementerian Agama Republik Indonesia dan didukung oleh UNICEF., ” ujar Diana, Kamis (24/03/2022).

UNICEF kali ini menunjuk LPKIPI sebagai mitra pelaksana program ini di 4 Kabupaten/Kota di Jawa Timur yaitu di Trenggalek, Kota Malang, Lumajang dan Bondowoso. Di setiap Kabupaten/Kota terdapat satu Pesantren dan satu Desa sebagai lokus kegiatan.

Wasis Jatmiko Aji , dari LPKIPI sekaligus penanggung jawab program , kegiatan ini harapannya, Pesantren dan Desa yang menjadi lokus bisa menjadi percontohan Pesantren dan Desa ramah anak.

“Yang kita lakukan dalam kegiatan tersebut diantaranya dengan memaparkan praktik baik yang sudah ada di daerah, mempelajari Modul PKH dengan menggali isu-isu kesehatan dan lingkungan, diskusi bagaimana berkerja dengan Remaja, menggali isu-isu PKH di kehidupan remaja khususnya di Pesantren dalam menghadapi era digital abad 21 dan menganalisa permasalahan dan bagaimana remaja mengelolanya, dalam merencanakan tindak lanjut di tingkat Forum Anak, kelompok Anak Muda Madrasah dan Pesantren,” paparnya.

 

Topik Modul PKH dikembangkan berdasarkan penelitian UNICEF yang luas dan pengalaman dalam mengimplementasikan program PKH di negara lain serta di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, dikembangkan 13 keterampilan hidup inti dan ini erat kaitannya dengan pendekatan / program pendidikan saat ini yang dipromosikan oleh Kemendikbud yaitu berkomunikasi, menyelesaikan masalah, bekerjasama, bernegosisasi, mengambil keputusan, menghargai perbedaan, berempati, berpartisipasi, berpikir kritis, kreativitas, mengatur diri sendiri, mengelola stress dan emosi, serta resililen (ketangguhan dan ketahanan).

“Selain mendapatkan materi tentang Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH), peserta juga mendapatkan materi tentang Perkawinan Anak, Kekerasan Berbasis Gender (KGB) serta Perlindungan dari Eksploitasi dan Perlakuan Salah Seksual (PEPSS)
16 calon Fasilitator yang dilatih nantinya akan memfasilitasi pelatihan kepada 160 agen perubahan dari kalangan santri dan remaja di 4 Kabupaten/Kota, dimana salah satu tugas dari agen perubahan tersebut adalah menjadi ujung tombak dalam mengkampanyekan materi-materi pencegahan dan penanggulangan kekerasan berbasis gender dan perkawinan anak, ” pungkasnya. (kj4)