Unair Surabaya Tuan Rumah Kongres VI AFEBI

oleh

Surabaya, kilasjatim.com: Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menjadi tuan rumah Kongres VI Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) di Sheraton Hotel, Surabaya, Kamis (25/10/2018). Kongres ini diikuti sekitar 320 peserta dari 72 perguruan tinggi.

Agenda utama Kongres VI AFEBI yang mengambil tema ‘Mewujudkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang Inovatif untuk Menghadapi Era Disrupsi’ ini, yaitu menyusun kurikulum FEB Perguruan Tinggi anggota Afebi dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0.

“Dengan adanya revolusi Industri 4.0 menyebabkan semuanya berubah. Termasuk dalam dunia bisnis yang menyebabkan banyak banyak perusahaan tenggelam karena tidak mampu mengantisipasi tantangan dalam perubahan tersebut,” kata Dekan FEB Unair, Dian Agustia kepada wartawan di sela kongres.

Dijelaskan, jika melihat kondisi sekarang ini, hanya perusahaan yang mampu berbenah pada sistem informasinya yang akan mampu bertahan dan eksis di revolusi industri 4.0. Perusahaan besar yang tidak mampu untuk melihat tantangan dan antisipasi, maka akan tenggelam.

“Sudah tentu, hal itu berdampak pada perguruan tinggi untuk menyediakan lulusan SDM yang juga harus siap menghadapi perubahan dalam revolusi industri tersebut,” tutur Dewan Pengurus Nasional AFEBI ini.

Karena itu, kongres ini diselenggarakan juga dalam rangka melihat bagaimana masing-masing keilmuan dari fakultas ekonomi dan bisnis mampu menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 tersebut.

“Misalkan untuk mata kuliah keilmuan sistem informasi harus ikut berubah mengikuti perkembangan dan hal itu akan diikuti juga pada semua mata kuliah yang ada hubungan dengan sistem informasi. Sehingga lulusnya bisa beradaptasi dengan perubahan revolusi industri disrupsion ini,” paparnya.

Selain memperbaiki sistem informasi, Dian menyebut FEB juga akan semakin memperkuat keilmuan enterpreneurship di setiap mata kuliah. Demikian pula setiap kemungkinan adanya teknologi atau inovatif dan sistem informasi yang berhubungan konten masing-masing kurikulum harus berubah.

“Melihat perubahan lingkungan itu, praktis perguruan tinggi harus menyesuaikan. Kita berkolaborasi dan sharing keilmuan serta pengelolaan fasilitas yang diharapkan lulusannya lebih inovatif dan mempunyai jiwa entrepreneur seperti besar,” ujarnya.
(Wah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *