STIE Perbanas Surabaya Dorong Bank Wakaf Mikro Sebagai Solusi Ekonomi Produktif

oleh

Guru Besar STIE Perbanas Surabaya, Prof. Drs. Ec. Abdul Mongid, MA., Ph.D.,memaparkan Pengembangan Bank Wakaf Mikro dari sisi Akademisi di acara webinar Jumat (18/09/2020)

KILASJATIM.COM, Surabaya –
Pusat Kajian Bisnis dan Perbankan STIE Perbanas Surabaya menggelar Webinar Islamic Economics Series II bertema “Mendorong Bank Wakaf Mikro sebagai Katalisator Ekonomi Produktif di Seputar Pesantren”Jumat, (18/09/2020).

Guru Besar STIE Perbanas Surabaya, Prof. Drs. Ec. Abdul Mongid, MA., Ph.D., dalam.acara tersebut memaparkan Pengembangan Bank Wakaf Mikro dari sisi Akademisi. Menurutnya keberadaan Bank Wakaf untuk mengangkat ekonomi kemasyarakatan warga sekitar pesantren, yakni dengan membangun bank mikro yang digunakan sebagai bantuan modal berjalan dari kelompok usaha mikro.produktif (kumpi).

“Selanjutnya dari kumpi akan mem bentuk halaqoh mingguan (halmi) yang keanggotaanya sekitar 25 orang . Pertemuan isinya pembinaan dan pengembangan bisnis anggota. Pinjaman maksimum Rp1 juta dengan jangka waktu pengembalian 20 Minggu. Setiap pembayaran ada dana untuk pembinaan yang besarnya hanya 3 persen,” ujar Abdul Mongit di ruang kerjanya Jumat (18/09/2020)

Dalam acara webinar tersebut, lebih dari 250 peserta terlibat mulai dari praktisi perbankan, guru ekonomi, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

“Adanya bank wakaf ini ke depan akan menjadi makin bagus sejalan dengan kampus.merdeka belajar manfaat bagi kampus sebagai sarana belajar sekaligus menjadi projek sosial mencetak wirausaha,” papar Mongid.

Sebagaimana diketahui adanya seminar yang digelar STIE Perbanas didasarkan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang semakin memperluas keberadaan Bank Wakaf Mikro (BWM) di berbagai daerah di Indonesia.

Hal ini tentu mendorong perekonomian agar semakin produktif. Proses Bisnis dari Bank Wakaf Mikro ini juga dapat dikatakan istimewa. BWM masuk ke masyarakat dengan sistem pinjaman yang prosedurnya relatif simple, berkelompok dalam ekonomi, dan lebih mengutamakan reputasi dan sikap positif seseorang untuk pinjam daripada sekadar ketersediaan agunan.
Bahkan, Oktober tahun lalu di wilayah Jawa Timur sendiri sudah tersedia 15 BWM.

Sedangkan OJK mencatat Bank Wakaf Mikro menyalurkan pembiayaan kumulatif mencapai Rp48,08 miliar kepada 34,3 ribu nasabah yang merupakan pelaku usaha mikro dan super mikro di sekitar kawasan pondok pesantren hingga 9 September 2020. Total bank wakaf mikro mencapai 58.

“Bank Wakaf Mikro ini fokus ke pembiayaan, tidak mencari dana pihak ketiga. Karakteristiknya non deposit taking, tidak ambil dana masyarakat,” kata Advisor Bidang Perluasan Market Akses OJK Achmad Buchori dalam suatu kesempatan webinar sebelumnya.

Berdasarkan data terkini yang dikumpulkan melalui aplikasi Bank Wakaf Mikro (BWM), jumlah penyaluran pembiayaan itu ada peningkatan dibandingkan realisasi kumulatif keseluruhan tahun 2019 yang mencapai Rp37,45 miliar kepada 28 ribu nasabah.

Sementara itu, pada masa pandemi COVID-19, lanjut dia, pinjaman bermasalah dari nasabah BWM masih tergolong rendah karena didukung peran pengelola dan pengurus pesantren.

Selain itu, skema tanggung renteng di antara para nasabah yang berada dalam satu kelompok yang saling mengenal juga mencegah pengembalian pinjaman macet. “Potensi macet itu ada tapi kami sudah mitiagasi,” imbuhnya.

OJK, juga memberikan keringanan di tengah masa pandemi ini yakni dengan memperpanjang penyampaian laporan hingga November 2020 dan akan ditinjau kembali. Selain itu, juga ada restrukturisasi pembayaran pinjaman yang dilakukan dengan kesepakatan sehingga pinjaman bermasalah dianggap lancar selama masa pandemi (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *