Siapa Bilang Berkebun Mahal? Asal Punya Kemauan

oleh -839 Dilihat

Foto: tqi

KILASJATIM.COM, Malang – Tiga bulan terakhir saya belajar mendaur ulang sampah domestik. Dari kulit bawang, buah dan sisa sayur yang tidak termakan. Selain itu saya pakai gelas plastik bekas minuman siap saji, sebagai alat tanamnya.

Limbah sayur, kulit telur saya dipotong dan geprek agar mudah hancur. Lantas, mengorek tepi pot agar tidak merusak akar tanaman yang sudah ada. Dan. Menimbun ya kembali. Begitu berulang dari satu pot ke pot lainnya.

Jika semua pot telah penuh, maka gelas bekas minuman siap saji pun ikut dipakai. Seperti membuat ice pot, berlapis. Dari tanah, kulit telur, ditimbun tanah, kulit bawang tanah diberi biji cabe, batang mawar, kucay, seledri atau daun mint. Begitu seterusnya.

Puluhan batang mawar mulai tumbuh, begitu pula daun mint. Antara senang dan bingung, akan dikemanakan Tunas baru yang berhasil diternak.

Syukurlah, beberapa kawan dengan senang hati mengadopsi mereka. Memindahkan dari gelas kecil pada pot besar di rumah masing-masing. Tapi tanaman baru terus bermunculan, kali ini cabe yang mulai berbunga.

“Alhamdulillah, cabe nya berbunga. Gak lama lagi bisa di petik, cabe mahal,” kata Jingga yang kerap membantu ngulik tanah.

Ya, beberapa bunga mulai bermunculan. Ini bertanda baik, untuk saya, bocah-bocah dan sekitar. Setidaknya usaha tidak mengkhianati hasil.

Kegiatan harian yang melibatkan bocah itu, membuatnya mengumpulkan bungkus sabun cuci atau makanan, sebagai media tanam.

Bila ditimbang sampah domestik saya 300 gram sehari. Jika seminggu bisa 3 kg, sebulan ditambah ini itu bisa sampai 10 kg. Itu belum termasuk sampah ibu yang membuat olahan makan siap saji, Lontong Sayur di Pasar Tawangmangu.

Baca Juga :  Pada Senja Festival Borobudur Kami Berjumpa

Upaya kecil mengurangi sampah, belum maksimal memang. Tapi kami tetap berusaha sekecil-kecilnya.

Semua kegiatan itu kami lakukan di teras, atas rumah. Sebab rumah kami berada di kawasan padat penduduk. Dimana, tidak ada lahan tersisa untuk taman. Tapi kami tetap semangat, sekaligus menepis ungkapan tetangga, akan tandur di mana? Semua tembok sudah diplester. Harga tanah/pupuk mahal, berkebun juga mahal.

Meski mengolah tanah sendiri. Setiap semester saya tetap membeli dua kantong pupuk organik buatan siswa, saat mengambil rapot Bulan di SMAN 7. Sebagai apresiasi pada siswa yang tergabung dalam adiwiyata. (tqi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.