ShopeePay Talk Bagikan Tips Jitu Co-Branding dari Pakar dan Pebisnis

oleh SebarTweet

 

Kupas Tuntas Keseruan Kolaborasi Antarbisnis ShopeePay Talk Bagikan Tips Jitu Co-Branding dari Pakar dan Pebisnis. Atas – bawah Sylvia Co-Founder Kopi Soe, Nikita Wiradiputri CEO & Co-Founder Dear Me Beauty, serta
Stephanie Regina Brand Enthusiast dan Founder & CEO Haloka Group     
KILASJATIM. COM, Jakarta – ShopeePay Talk, platform diskusi interaktif bulanan membahas berbagai topik ringan, trendy, dan insightful, kali ini hadir dengan topik bagaimana bisnis dapat mengoptimalkan peluang

kolaborasi sebagai upaya untuk memikat hati konsumen. Mengusung tema ‘Kolaborasi Hasilkan Kreasi ”

Stephanie Regina, Brand Enthusiast dan Founder & CEO Haloka Group, membagikan pandangannya terkait perumusan strategi kolaborasi yang ideal. Selain itu, hadir juga dua pebisnis inspiratif dari latar industri yang berbeda, yaitu Sylvia, Co-Founder
Kopi Soe dan Nikita Wiradiputri, CEO & Co-Founder Dear Me Beauty membagikan kisah seru dalam menjalankan strategi kolaborasi dengan brand lain dan melahirkan berbagai produk unik yang segar.

Eka Nilam Dari, Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay mengatakan, dalam lanskap
industri saat ini, bisnis dihadapkan pada kesempatan yang tak terbatas untuk berinovasi dengan cara yang kreatif dan unik, salah satunya adalah strategi kolaborasi atau yang dikenal sebagai co-branding.

“Terlepas dari ragam manfaat yang bisa didapatkan dari strategi kolaborasi, ShopeePay menyadari bahwa
strategi ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi brand yang belum pernah menerapkannya. Semoga
melalui kisah inspiratif dan insight seputar strategi co-branding bersama pembicara hari ini, ShopeePay
Talk dapat memberikan jawaban bagi para pebisnis dalam mengusung strategi kolaborasi, memberikan
gambaran dan ekspektasi terkait strategi ini, serta menjawab tantangan yang dihadapi dari strategi kolaborasi,” uhar Nilam dalam sambutannya melalui virtual Rabu (23/03/2022).

Eka Nilam Dari, Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay

Dear Me Beauty dan Kopi Soe merupakan dua brand favorit yang dikenal dengan inovasi serta kolaborasi
produknya yang kerap menarik perhatian masyarakat. Bergerak di industri kecantikan, Dear Me Beauty
bahkan pernah mengeluarkan produk make up dan skincare unik bersama pemain dari industri lain, mulai
dari brand fried chicken populer, penyedap rasa, hingga permen. Di sisi lain, Kopi Soe yang notabene
dari kategori F&B pun selalu hadir dengan produk kolaborasi yang segar dan tidak kalah unik, seperti
kolaborasi dengan produk pakaian, snack, serta produk minuman lain.
Tak dipungkiri, strategi co-branding memang bisa menjadi salah satu pilihan tepat bagi bisnis yang hendak melebarkan sayapnya. Pasalnya, strategi ini mampu mendorong bisnis untuk menghasilkan ide yang segar serta unik, memperluas jangkauan pasar, hingga meningkatkan brand awareness di mata
masyarakat. Namun begitu, diperlukan perencanaan yang matang dan komprehensif mencakup berbagai
aspek bisnis agar tujuan dari co-branding dapat tercapai dengan efektif.

Mengupas kisah perjalanan kolaborasi dari Kopi Soe bersama Sylvia dan Dear Me Beauty bersama Nikita Wiradiputri, serta pandangan menarik dari kacamata seorang brand enthusiast, Stephanie
Regina, berikut adalah tiga kunci yang harus diperhatikan oleh bisnis saat ingin melakukan strategi co-branding:
Memilih mitra kolaborasi dengan nilai dan tujuan yang sejalan Mengidentifikasi calon mitra kolaborasi yang memiliki nilai dan tujuan serupa dengan brand merupakan
langkah penting ketika mengusung strategi kolaborasi. Nilai dan tujuan yang serupa bisa menjadi landasan hubungan kolaborasi yang kuat. Dengan begitu, kedua brand dapat menyamakan ekspektasi antara satu sama lain serta bersama-sama fokus untuk memberikan pengalaman terbaik kepada
konsumen sesuai dengan nilai-nilai yang mereka junjung.

Sylvia, Co-Founder Kopi Soe menuturkan, “Kopi Soe berupaya untuk senantiasa hadir sebagai brand dengan citra lokal yang kental. Berangkat dari situ, kolaborasi yang kami lakukan cenderung melibatkan partner dengan value yang serupa, meski datang dari latar belakang dan industri yang berbeda.

Pemilihan mitra kolaborasi yang tepat memudahkan Kopi Soe dalam menyusun strategi co-branding dan
memperhitungkan dampak dari kolaborasi itu sendiri.

“Dalam menghimpun informasi tersebut, tentunya kami melakukan riset dan observasi yang komprehensif menyangkut tren, demografis konsumen, hingga nilai dan karakter yang dibawakan oleh calon partner. Hal tersebut membuat kami mampu menjalankan kolaborasi yang apik namun tetap fleksibel dari segi proses kreatif,” jelasnya.

Kreasi dari konsumen dan untuk konsumen Ide yang unik serta terobosan baru yang segar memang bisa menjadi tiket keberhasilan strategi
co-branding. Namun, perlu diingat, konsumen merupakan poros utama dalam proses formulasi strategi
hingga lahirnya produk kolaborasi yang kreatif. Dengan kata lain, output kolaborasi harus menjawab
kebutuhan, ketertarikan, atau permasalahan yang berkaitan dengan konsumen.

Nikita Wiradiputri, CEO & Co-Founder Dear Me Beauty mengatakan, kolaborasi antarbisnis memang memiliki daya pikatnya tersendiri, salah satunya adalah kebebasan kita sebagai brand untuk mengeksplorasi dan bereksperimen menciptakan inovasi atau produk baru.

“Dear Me Beauty sebagai people power brand selalu berusaha untuk mendobrak batas industri kecantikan dengan
menyuguhkan kombinasi produk berkualitas serta pengalaman yang tak terlupakan bagi konsumen.
Untuk mencapai hal tersebut, kami berupaya untuk melibatkan konsumen dalam tiap proses kreasi produk kolaborasi agar sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen. Sebab, kami memahami
bahwa strategi ini bukan semata-mata untuk kebutuhan bisnis, tapi bagaimana kolaborasi bisa membawa
hal baru dan di saat yang bersamaan juga menjawab kebutuhan konsumen. Tidak hanya produk, hal ini
juga kami implementasikan pada layanan yang kami berikan, seperti menyediakan layanan pembayaran
digital ShopeePay yang memang sesuai dengan kebutuhan konsumen di era digital ini,” tegasnya.

Tetap konsisten dengan karakteristik brand Strategi co-branding cukup menjadi tantangan bagi brand dalam mempertahankan jati dirinya di tengah
usaha mempersatukan ide dan pendapat dengan brand yang berbeda. Salah satu cara yang dapat diterapkan oleh brand untuk menyiasati hal tersebut adalah dengan mengenali kelebihan serta ciri khas sehingga mampu menyusun strategi komunikasi yang tepat dan beriringan dengan objektif kolaborasi.

Diakhir acara, Stephanie Regina, Brand Enthusiast dan Founder & CEO Haloka Group mengatakan, Co-branding secara langsung atau tidak akan
mengekspos brand pada jangkauan konsumen yang makin luas. Terkait hal tersebut, tentu brand ingin
membuat impresi yang tepat, terukur, dan konsisten. Maka dari itu, citra serta karakteristik yang khas merupakan pondasi yang harus dipegang teguh oleh brand ketika melangsungkan strategi ini.

” Brand perlu melakukan perencanaan yang matang, bahkan sebelum menjalankan kolaborasi. Dengan
mengelaborasikan kebutuhan dan objektif dari kolaborasi, brand dapat memilih mitra kolaborasi yang
akan melengkapi kekurangan sekaligus menonjolkan daya pikat dari masing-masing brand sehingga menghasilkan co-branding yang harmonis,”pungkasnya. (kj8)