Semburan Air Bercampur Gas di Rungkut Diduga Gas Alami, ITS Pastikan Bukan Kebocoran Pipa

oleh -395 Dilihat
Semburan air bercampur gas di Sungai Kebun Agung, Rungkt Madya masih belum berhenti. (Foto: Ist/kilasjatim)

KILASJATIM.COM, Surabaya — Semburan air bercampur gas yang muncul di Sungai Kabun Agung, Rungkut Mapan memicu perhatian warga dan kalangan akademisi. Ahli Geofisika ITS menduga kuat semburan air bercampur gas disebabkan oleh gas alami dari dalam tanah.

Dugaan kuat ini diungkapkan dosen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Wien Lestari, menilai fenomena tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh gas alami di bawah permukaan tanah, bukan akibat kebocoran pipa gas.

“Dari hasil uji menunjukkan kandungannya berupa belerang dan gas alami, bukan gas buatan dari jaringan PGN,” ujar Wien saat ditemui di lokasi, Jumat (17/10/2025).

Berdasarkan kajian awal ITS, gas tersebut diduga berasal dari aktivitas vulkanik atau magmatis purba yang masih tersimpan di lapisan bawah tanah Surabaya. Fenomena serupa, kata Wien, juga pernah terjadi di kawasan Gunung Anyar dan Kedungsari, dengan karakter semburan yang melemah seiring waktu.

“Secara geologis, wilayah Surabaya memang tersusun atas lapisan lempung dan endapan tebal yang bisa menyimpan gas dan hidrokarbon. Itu sebabnya, semburan seperti ini beberapa kali muncul di Surabaya Timur,” jelasnya.

Untuk memastikan sumber pasti semburan, tim ITS akan melakukan pemetaan utilitas bawah tanah, studi geofisika permukaan, serta pengambilan sampel air untuk diuji di laboratorium.

“Kami akan uji kandungan hidrokarbon atau logam berat dalam air. Kalau terdeteksi adanya minyak atau TPH (Total Petroleum Hydrocarbon), baru bisa disebut berpotensi pencemaran,” papar Wien.

Namun, dari pengamatan awal, tidak ditemukan tanda-tanda tumpahan minyak, seperti lapisan mengkilap atau warna gelap di permukaan air.

“Dari hasil visual, ini murni gas alami, bukan tumpahan minyak,” tegasnya.

Baca Juga :  Andil PGN Subholding Gas Pertamina Penuhi Kebutuhan Energi Penggerak Ekonomi

Wien memastikan fenomena tersebut tidak berisiko tinggi bagi warga karena terjadi di ruang terbuka. Meski demikian, ia mengimbau kewaspadaan bila semburan muncul di area padat penduduk.

“Selama muncul di area outdoor seperti ini, risikonya kecil. Biasanya semburan akan berhenti sendiri setelah tekanan gas berkurang,” ujarnya.

Fenomena ini sekaligus menambah daftar titik di Surabaya Timur yang pernah mengalami semburan serupa, memperkuat indikasi adanya zona rekahan bawah tanah yang menjadi jalur migrasi gas dari lapisan bumi ke permukaan.(cit)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.