Sekuntum Nozomi, Ketika Sastra Berbicara Fakta

oleh -635 Dilihat

Foto: Tqi

KILASJATIM.COM, Malang – Baru saja saya menyelesaikan novel Sekuntum Nozomi, buku tiga. Lantas membuka file 1998 pada mesin pencari google, badan berasa ngilu. Membaca kembali peristiwa waktu itu. Meski ada yang menyangkal, semua tak jadi.

Saya tidak bisa membayangkan remaja-remaja pulang sekolah, kuliah atau mall dipaksa turun dari bus. Di tengah jalan. Lantas dilucuti. Oleh siapa? Oleh laki-laki berbadan kekar, berkulit legam, matanya merah dan dilengkapi handy talky yang digantung pada celananya.

Tangannya menggenggam sajam, untuk melukai, merobek dan membuka pakaian para gadis berkulit putih. Lantas memperkosa bergiliran ditengah keramaian.

Ya, kejadian 13-15 Mei 1998, digambarkan secara nyata oleh Marga T yang memiliki nama Intan Margaretha Harjamulia dalam roman sejarah yang terbit pada 2004.

Dalam novel tersebut ia, menulis dengan baik kesaksian warga. Dari pengintaian yang dilakukan orang tak dikenal pada warung kopi. Lantas memprovokasi warga setempat jika menginginkan Amoi, sebutan untuk gadis keturunan China, boleh dicicipi. Kunjungan para preman pada pemilik toko agar memberi uang dan menandai dengan cat hijau, merah atau hitam.

Berikutnya peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti, esoknya kerusuhan itu terjadi, pembakaran mall, toko disertai pemerkosaan pada penghuninya. Disaksikan bapak, suami dan keluarga laki-laki yang tak berdaya menolong. Sungguh menyakitkan.

Suatu kebiadaban yang tak pernah terpikirkan. Ada manusia melakukan perkosaan sebagai tontonan. Bagaimana ia bisa melakukan dan orang sekitar tak berani memberi pertolongan, sekali pun korban berteriak. Semua diam dalam ketakutan.

Sekujur badan berasa ngilu, sakit semua. Bagaimana kita ditelanjangi didepan umum, lantas digagahi, bergantian. Dipegangi kaki tangan dan mulut dipaksa dibuangi kotoran semen. Sungguh saya ingin muntah.

Baca Juga :  Lebih Cepat Dideteksi, Lebih Cepat Diobati

Setelah puas, korban dibiarkan begitu saja, di tepi jalan, pinggir sungai atau bawah jembatan. Pelaku pergi begitu saja, setelah mendengar perintah dari atasan.

Sedang, mesin pencari google, membawa pada sosok Ita Martadinata Haryono, seorang aktivis Tim Relawan untuk Kemanusiaan korban Mei 1998 yang dibentuk Romo Sandyawan. Gadis 18 tahun yang sedianya berangkat ke Kongres Amerika menghadiri pertemuan PBB, guna memberi kesaksian kejahatan kemanusiaan, perkosaan pada perempuan ditemukan mati pada 9 Oktober 1998. Puluhan luka tusuk pada dada dan lengan, lehernya digorok dan balok kayu yang ditancapkan pada alat vital. Sungguh mengerikan.

Dua puluh enam tahun silam peristiwa itu terjadi. Apakah generasi milenial dan gen z mengetahui kejadian tersebut? Entahlah, sejarah tak menuliskan fakta. Tapi sastra telah merekamnya. (tqi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.