Sejak Dikenalkan Aplikasi Bukuwarung,  Bu Luti  Merasakan Kemudahan Menjalankan Tokonya 

oleh

 

Toko Bu Luti menyediakan berbagai kebutuhan sehari – hari untuk warga sekitar maupun pedagang (kilasjatim.com/Nova)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Bagi Bu Luti (60 th) selama pandemi yang dijalani hampir 2 tahun, adalah masa tersulit dalam menjalankan usahanya berjualan yang selama ini menjadi ladang untuk menghidupi keluarganya.

Bagaimana tidak, usaha yang baru dijalankan beberapa tahun dan mulai berkembang ini terhempas pandemi Covid 19, akibatnya sudah bisa ditebak, jualannya mulai sepi dan pemasukannya juga berkurang jika dibandingkan omset yang dia dapatkan sebelum pasukan virus Corona menyerang negeri ini.

Warung yang menjual berbagai macam kebutuhan dapur memang tidak terlalu besar namun bisa dibilang lengkap. Untuk menjadikan tokonya kembali ramai saat pandemi melanda, Bu Luti berupaya menjadikan tokonya tersebut ramai kembali. Caranya Bu Luti memberi kesempatan kepada pelanggan lamanya untuk berutang atau membeli secara kredit.

Dan strategi ini pun bisa dibilang cukup berhasil karena pelanggannya yang mayoritas adalah pedagang kuliner dan penjual gorengan bergairah untuk membeli semua kebutuhannya di toko Bu Luti.

“Yang saya lakukan dengan cara kredit ini sekaligus juga membantu supaya pelanggan saya bisa jualan lagi . Situasai memang serba sulit sekarang ini, pandemi Covid membuat kita semua kalang kabut, dengan memberikan sistim kredit pelanggan saya sangat terbantu dan toko saya juga berjalan normal,” ujarnya.

Bisnis atau toko kelontong yang dijalani Bu Luti sejak tahun 2010 awalnya dimaksudkan untuk mengisi kesibukan di rumah dengan dua anak. Suaminya yang sebagai ASN di Perusahaan Kereta Api terkadang bertugas di luar kota.

Toko kelontong yang dikelolanya diberi nama sesuai namanya Toko Bu Luti di kawasan Perumahan Magersari di Sidoarjo berjualan semua kebutuhan sehari hari. Bisnisnya pun berjalan lancar dan mulai ramai. Awalnya toko berukuran kecil namun seiring dengan perkembangan toko tersebut diperluas dengan mengorbankan sebagian ruangan di rumahnya.

Hingga suatu saat peristiwa yang sama sekali tidak ada dalam pikirannya terjadi. Suaminya pensiun dini sebagai ASN di perusahaan Kereta Api, lantaran mengalami sakit pada kakinya yang tidak bisa digerakkan atau lumpuh. Maka Bu Luti harus memutar otak untuk membuat roda ekonomi keluarga berputar terus dalam upaya memenuhi kebutuhan sehari hari.

“Uang pensiun ada setiap bulan namun kalau hanya mengandalkan dari pensiun jelas tidak cukup. Alhamdulillah toko yang awalnya hanya untuk pengisi waktu luang, akhirnya bisa saya jadikan usaha utama untuk pemenuhan kebutuhan,” ujar ibu dua orang anak ini mengawali pembicaraan.

Dalam berbisnis Bu Luti sibuk mengurus warungnya sendirian, mulai dari menjaga toko, melayani pembeli, mengambil barang, hingga mencatat transaksi keuangan. Proses pencatatan transaksi keuangan secara manual. Dengan bekal buku semua pencatatan transaksi dilakukan dalam satu buku. Termasuk pencatatan bagi pembeli yang transaksi dengan cara ambil barang lebih dulu bayar besoknya atau hutang atau sistim kredit.

Cara ini tentu saja sangat merepotkan, terlebih jika Bu Luti lupa menaruh buku catatan atau biasa disebutnya sebagai ‘Buku Pintar’ tersebut. Maklum isi dari buku pintar ini sangat penting karena di dalamnya terdapat catatan utang, piutang, penjualan, pembelian, dan sebagainya.

“Wooo kalau buku ini hilang, sama artinya bisnis saya hilang. lha wong semua catatan keluar masuk barang, apa saja yang sudah di beli, barang apa yang habis dan catatan hutang piutang jadi satu di buku ini. Saya bisa senewen kalau sampai buku ini hilang,” tukasnya kala itu.

Keruwetan tersebut berangsur angsur mulai bisa dihindari Bu Luti. Awalnya Bu Luti mengaku gaptek alias gagap tekhnogi namun seiring dengan perkembangan jaman, dia pun disarankan anaknya agar menggunakan ponsel. Maka Bu Luti pun mulai membiasakan diri dengan mengoperasikan ponsel dalam menerima pesanan dari pelanggannya.

“Saya diajari anak cara mengoperasikan ponsel, maklum pelanggan saya banyak yang menganjurkan agar saya punya ponsel supaya komunikasi jual beli atau jika ada pesanan dari pelanggan saya bisa menyiapkan lebih awal, setelah semua barang siap pelanggan akan mengambil barangnya,” urai Bu Luti yang kini sudah terbiasa dengan alat komunikasi tersebut.

Yang membuat Bu Luti kini semakin dimudahkan dalam menjalankan usaha toko kelontongnya adalah semenjak dikenalkan dengan aplikasi bukuwarung oleh salah satu sales dari perusahaan minuman yang biasa mengirim dan menitipkan produknya di toko miliknya.

“Saya diajari supaya pakai aplikasi BukuWarung untuk semua pencatatan transaksi dan lain sebagainya.Awalnya kelihatan ribet, tapi setelah saya diajari akhirnya saya bisa. Kalau kesulitan saya tanya anak saya, selain diajari sama salesnya yang telaten ngajari saya yang gaptek ini ha..ha.ha.ha,” tawa lepas Bu Luti dalam mengisahkan pengalamannya.

Perlahan namun pasti, sekarang Bu Luti sudah bisa menggunakan aplikasi BukuWarung secara mandiri dan merasakan kemudahan. Sesekali dibantu anaknya dalam mengoperasikan aplikasi tersebut yang sekiranya dia tidak paham. Beberapa waktu berlalu, akhirnya Bu Luti mengakui bahwa aplikasi BukuWarung sangat membantu pekerjaannya.

“Semua transaksi hutang piutang pelanggan tercatat rapi dan jika pelanggan nakal mengaku sudah bayar akan terlihat karena semua sudah saya catat di sini jadi mereka tidak bisa lagi ngapusi (membohongi),” jelasnya.

Kini Bu Luti mengembangkan usaha dengan menjadi agen pulsa, jual token listrik dan melakukan pembayaran digital. Pandemi yang sempat dirasakan dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai bersahabat karena toko Bu Luti berangsur membaik dan lancar. Omsetnya pun semakin naik, meski tidak diutarakan berapa kenaikannya sekarang ini dibanding sebelumnya, namun Bu Luti merasa yang dia kerjakan membuahkan hasil.

“Alhamdulillah, meski saya menjalankan sendiri toko ini, saya bisa mengurus rumah, anak dan suami yang sudah mulai membaik kesehatannya. Saya juga tidak lagi mumet harus mencatat di buku karena sudah dibantu kemudahan dengan aplikasi BukuWarung,” paparnya.

BukuWarung  Bantu Pedagang Kecil

Dari pengalaman Bu Luti menggunakan aplikasi BukuWarung memang sangat membantu para pedagang kecil semacam dirinya, mengingat aplikasi BukuWarung tidak berbayar alias gratis dan dapat dengan.mudab diunduh oleh siapapun. Selain itu, fitur-fitur yang terdapat di BukuWarung juga sangat mudah digunakan dan memiliki fungsi yang lengkap. Hal ini membuat BukuWarung dapat dijadikan sebagai solusi dari permasalahan para pedagang kecil dalam mencatat transaksi keuangan.

Sebagaimana diketahui, aplikasi BukuWarung merupakan cara baru untuk mencatat pembukuan usaha seperti catatan hutang, piutang, penjualan dan pengeluaran. Yang dulunya dicatat melalui buku secara manual, kini seiring majunya perkembangan zaman, pembukuan usaha bisa melalui handphone dan semua orang bisa asal mau belajar untuk mengoperasikannya.

BukuWarung adalah aplikasi pembukuan UMKM yang dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pemilik usaha dalam mencatat pembukuan usahanya. Dan yang paling penting adalah tampilan menu yang ada di Aplikasi BukuWarung ini cukup sederhana dan sangat mudah untuk dipahami bahkan bagi orang yang masih awam.

Bagi Bu Luti fitur yang ada di aplikasi BukuWarung tidak semuanya digunakan. Hanya yang sesuai dengan kebutuhan seperti pencatatan keluar masuk barang, pencatatan utang piutang, catatan harian, stok barang.

“Fiturnya cukup banyak di BukuWarung tapi saya menggunakan yang sesuai dengan kebutuha saja, supaya tidak terlalu dipusingkan dan lebih mudah melakukannya,” imbuhnya.

Dengan BukuWarung semua catatan tersimpan dengan aman. Data yang dicatatkan di aplikasi BukuWarung jauh lebih aman daripada catatan manual menggunakan buku. Karena di BukuWarung semua catatan disimpan di server BukuWarung. Sehingga jika HP hilang, data masih bisa dikembalikan dengan cara masuk ke akun Anda.

Saatnya pelaku UMKM beralih dari pembukuan manual dalam mengatur mengatur keuangan usaha dengan aplikasi BukuWarung yang dengan sangat mudah, kapanpun dan dimanapun bisa dilakukan. Cukup dengan handphone di genggaman semua bisa diatur .

Dikatakan Bu Luti, kalau ada acara tour di kampungnya kini bisa ikut ambil bagian, karena tidak lagi dipusingkan dengan catatan buku yang dikawatirkan akan hilang atau ketlisut.

“Saat saya lagi bepergian, saya bisa memantau lewat ponsel, kalau ada pelanggan yang pesan saya bisa menelpon anak saya yang di rumah atau asisten saya untuk menyiapkan barang pesananya tanpa saya harus kehilangan waktu untuk kumpul bersama ibu ibu di perumahan,’ urainya.

Sementara itu, Head of Marketing BukuWarung, Ika Paramita, dalam siaran persnya mengatakan, hasil studi bersama INDEF ini membuktikan bahwa BukuWarung telah berada pada jalur dan arah yang tepat untuk memajukan UMKM di Tanah Air.

“Kami tak akan berhenti di sini. Sebaliknya, kami justru semakin siap mengembangkan bisnis dan layanan guna semakin memperkuat peran BukuWarung dalam memberdayakan UMKM dan berkontribusi memajukan perekonomian Indonesia,” pungkas Ika seraya mengimbau para pelaku UMKM untuk segera menggunakan aplikasi BukuWarung karena banyak kemudahan ditawarkan. Mulai dari mengatur keuangan usaha dengan mudah, kapanpun dan dimanapun. Bahkan dapat melakukan bisnis dalam genggaman tangan melalui smartphone android dengan mengunduh aplikasi yang tersedia di Google Play.

Sementara itu, Peneliti INDEF Nailul Huda mengatakan pelaku UMKM yang terdaftar sebagai pengguna BukuWarung mendapatkan manfaat seperti peningkatan produktivitas, pencatatan yang lebih terintegrasi dan lebih rapi, termasuk keuntungan atau kerugian dari bisnisnya, serta perluasan pangsa pasar.

“Peningkatan produktivitas berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, dan pengajuan kredit UMKM,” tutur Nailul.

Dia menambahkan, output ekonomi nasional mengalami peningkatan seiring perbaikan COVID-19, dengan angka mencapai Rp 138 triliun. Menurutnya, adanya penerapan teknologi yang ditawarkan BukuWarung semakin mengakselerasi output tersebut hingga Rp 170 triliun.

Tercatat, BukuWarung mampu menambah output UMKM sektor perdagangan sebesar Rp 193 miliar, serta sektor penyedia jasa pembayaran listrik, gas, dan air (PPOB) yang mencapai Rp 97,5 miliar. Selain itu, BukuWarung menambah penyerapan tenaga kerja UMKM sebesar 78 ribu tenaga kerja, atau tumbuh sebesar 22,63%. (kj2)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *