Raup Omzet Rp 1,5 Juta Sehari, Sentra Produksi Lontong jadi Potensi Ekonomi Menjanjikan di Banyuwangi

oleh -318 Dilihat

Foto: Ist/Pemkab Banyuwangi

KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Desa-desa di Kabupaten Banyuwangi menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan, salah satunya di Dusun Karanganyar, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu. Desa ini terkenal sebagai sentra produksi lontong di Banyuwangi. Tiap hari ribuan lontong diproduksi dari desa ini.

Terdapat 28 industri lontong rumahan di dusun ini. Rata-rata satu tempat memproduksi sekitar 1000 lontong per hari untuk memenuhi permintaan pasar. Beberapa orang bahkan memproduksi melebihi 1500 lontong.

Salah satu warga yang memproduksi lontong adalah Nur Kholis. Dia telah mengelola usaha produksi lontong di rumahnya sejak 2002. Bermula dengan hanya 5 kg beras, Nur Kholis saat ini telah berkembang dan menghabiskan 50 kilogram beras tiap hari.

“Usaha lontong di Karanganyar sudah terkenal dari dulu. Saya awalnya merintis menjajakan ke lingkungan sekitar. Alhamdulillah sekarang bisa ikut membuka lapangan kerja buat orang lain,” kata Nur Kholis.

Lontong buatan desa ini menggunakan lembar daun pisang, dan dimasak dalam tungku besar selama 8 jam.

Setiap hari, Nur Kholis membutuhkan setengah kwintal beras, untuk menghasilkan 1500-1800 lontong. Satu lontong ia jual dengan harga Rp1000. Dengan demikian, Nur Kholis bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 1,5 juta tiap hari.

Jumlah terus kian bertambah saat momen-momen tertentu. Seperti saat lebaran bisa membuat lontong dari 3 kwintal beras.

Nur Kholis menceritakan, lontong di desa ini terkenal karena sangat dijaga kualitasnya. Saat harga beras mahal, Nur Kholis dan teman-temannya tidak menurunkan kualitas beras buatannya.

“Kami terus berupaya di tengah harga beras dan bahan pokok yang tidak menentu, tetap mempertahankan kualitas lontongnya. Jadi saya tidak apa beli walaupun agak mahal, yang pentiing konsumen puas,” ujarnya.

Baca Juga :  CMSE 2022 Digelar, Bentuk Dukungan Pasar Modal Menuju Ekonomi Kuat Berkelanjutan

Tiap rumah produksi memiliki pasar masing-masing. Ada yang memenuhi kebutuhan di pasar-pasar tradisional, ada pula untuk kebutuhan warung-warung.

“Masing-masing punya pasarnya sendiri. Saya memenuh penjual bakso dan lainnya. Ada juga yang memasok untuk pasar Genteng, Rogojampi, Muncar, hingga Wongsorejo,” terang Nur Kholis.

Saat menggelar program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Karangsari, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, melihat proses pembuatan lontong. Ipuk juga menikmati lontong buatan desa ini.

“Bentuknya sangat rapi. Rasanya juga enak, legit, dan tidak keras. Lontong sudah menjadi makanan yang akrab di lidah orang Indonesia. Bisa untuk lontong kikil, bakso, gado-gado, dan makanan lainnya. Jadi permintaanya cukup besar,” kata Ipuk.

“Teman-teman yang punya usaha kuliner dan membutuhkan lontong, bisa pesan dari desa ini,” tambah Ipuk.

Ipuk mengatakan ekonomi Banyuwangi kini tumbuh dengan banyaknya usaha-usaha kerakyataan yang tumbuh seperti industri lontong rumahan ini.

“Karena itu, kami terus mendorong usaha mikro dengan berbagai program,” tambah Ipuk. (bkj)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.