PLTU Paiton Kebut Program Co-Firing Kembangkan Pohon Kaliandra Untuk Bauran Biomassa

oleh SebarTweet

Plh. General Manager PJB UP Paiton, Anggoro Hari dalam paparannya kepada media dari Jawa Timur saat kunjungan ke PLTU Paiton, Jumat (4/02/2022) (kilasjatim.com/Nova) 

KILASJATIM. COM, Probolinggo – PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Unit Pembangkitan (UP) mengebut untuk bisa mengejar target hingga 50 persen bauran biomassa dalam program co-firing.

Upaya kearah sana sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir dengan langkah langkah dan sejumlah strategi diantaranya dengan mengembangkan tanaman pohon Kaliandra yang pada tahap awal akan ditanam sebanyak 20.000 pohon di lahan kosong sekitar PLTU Paiton.

” Tahun lalu kami sudah melakukan penanaman Kaliandra sebanyak 20.000 di kawasan sekitar Paiton, kemudian penanaman di PLTA di Malang. penanaman Kaliandra ini dimaksudkan untuk dijadikan biomassa, ” ujar Plh. General Manager PJB UP Paiton, Anggoro Hari kepada media dalam kunjungannya Media Day ke PJB Jumat (4/02/2022).

Diharapkan penanaman Kaliandra ini akan bisa dipanen 2 tahun ke depan yang selanjutnya diolah jadi biomassa.

Untuk memasok biomassa 1 unit PLTU di Paiton, setidaknya dibutuhkan sebesar 1,2 juta hektar lahan tanaman Kaliandra per tahunnya.

“Untuk memenuhi pasokan biomassa ini, kita perlu menjalin komunikasi dengan Perhutani karena yang punya lahan seluas itu mungkin Perhutani, sehingga ke depan akan terus dijembatani berapa harga kompetitif yang Perhutani memang bisa bergerak masuk ke PLTU,” jelasnya.

Program co-firing atau penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial dalam PLTU batu bara ini merupakan salah satu upaya mencapai target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional hingga 23 persen pada 2025.

Co-firing PLTU juga merupakan bagian dari upaya PJB dalam mendukung isu strategis dan global untuk memenuhi Paris Agreement dan juga mendukung transformasi PLN pada pilar hijau. Sejak go-live, co-firing PLU Paiton 1-2 telah berkontribusi terhadap pencapaian EBT sebanyak 7,4 MW tanpa belanja modal atau setara 16,14 juta kWh.

Paiton menargetkan bisa meningkatkan bauran biomassa dalam program co-firing ke depan bisa mencapai 20 hingga 50 persen . Dijelaskan Anggoro Hari awal diluncurkan co-firing pada 2020, penggunaan biomassa sebagai bahan bakar campuran dengan batu bara masih mencapai 0,42 persen. Namun secara bertahap, co-firing terus ditingkatkan pada November 3,6 persen, dan pada Desember 2021 sudah mencapai 4,4 persen.

“Saat ini baurannya masih sekitar 5 persen, tetapi untuk percepatan kami targetkan untuk bisa menguji menjadi 20 persen, bertahap menuju 30 persen hingga 50 persen bauran sehingga PLTU PJB UP Paiton akan jadi pionir co-firing, ” paparnya.

Untuk ke arah sana, ditambahkan Anggori Hari , dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk co-firing dengan bauran hingga 20 persen dibutuhkan sekitar Rp2 miliaran yang akan digunakan untuk pembelian conveyor yang lebih besar, bahkan untuk bauran 50 persen dibutuhkan 2,5 kali lipat lagi investasinya.

Diakui, upaya substitusi pencampuran batu bara dan biomassa ini memang masih memiliki tantangan besar. Pasalnya, bahan baku biomassa yang melimpah di Indonesia tidak mudah digunakan begitu saja.

“Indonesia merupakan negara di khatulistiwa yang banyak hutan tropis dan banyak perusahaan bidang perkayuan yang memiliki bahan sisa dari perusahaan untuk dimanfaatkan sebagai biomassa, jadi biomassa yang digunakan selama ini bukan dari hutan tapi dari sisa proses perkayuan seperti sisa serbuk kayu (grajen/bhs Jawa),” urainya.

Total penggunaan biomassa dari serbuk kayu saat ini mencapai 35.608,35 ton dengan total green energy yang dibangkitkan sebesar 35.986,684 MWh.

Saat ini pasokan biomassa dengan potensi alternatif masih berada di sekitar wilayah PJB PU Paiton di antaranya seperti Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Pasuruan. Sejumlah potensi biomassa yang bisa digunakan seperti sekam padi, cocopeat, wood chip, dan tanaman Kaliandra. (kj2)