Pertamina di Taman Dinoyo

oleh
Pintu masuk ke Kawasan Wisata Keramik Dinoyo.

KILASJATIM.COM, Malang  – Tiga buah guci raksasa berdiri gagah di Taman Keramik, Jl. MT Haryono IX, Dinoyo. Taman yang dibangun atas program CSR PT. Pertamina Malang ini menandai pintu masuk Kapung Wisata Keramik Dinoyo (KWKD).

Menurut Wawan, pedagang nasi di depan Taman Keramik, sekian tahun lalu taman itu tidak terurus, tidakmenarik dan kumuh.

“Dulu, taman ini tidak terurus. Sekarang lebih bagus dan tertata, setiap minggu dimanfaatkan untuk senam pagi warga,” ceritanya.

Memurutnya pembangunan taman itu hasil kerjasama antara PT Pertamina dan Politeknik Negeri Malang  (Poltek). Selain bantuan fisik juga pendampingan dalam pengembangan usaha keramik. Sejak ditetapkan sebagai KWKD, kehidupan warga semakin menggeliat.

Taman yang dulu tak terawat , kini menjadi asri dan dipergunakan kegiatan warga.

Dulu warga ke sana hanya untuk membeli tanpa tahu bagaimana proses pembuatan keramik. Kini tidak lagi, Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Keramik Dinoyo, H. Samsul Arifin, siapa pun bisa belajar membuat keramik melalui program short course selama musim liburan.

Melalui program tersebut semua warga dari siswa sekolah dasar sampai mahasiswa, akan diajarkan mengenai apa itu keramik hingga cara membuatnya. Dengan begitu anak lebih mudah memahami keramik yang menjadi bagian dari sejarah Kota Malang, utamanya Dinoyo.

Diceritakan dalam sejarah industri keramik diawali dengan sentra usaha gerabah di daerah Bhetek, tidak jauh dari Dinoyo pada 1930 an. Dari sana usaha begeser pada penggunaan bahan baku dari tanah liat ke porselen atau keramik pada 1955.

Pada 1957, pemerintah melalui Lembaga Penyelenggara Perusahaan Industri Departemen Perdagangan, mendirikan pabrik keramik percontohan di Dinoyo diresmikan oleh Wapres Moh. Hatta.

BACA JUGA: Pertamina Sosialisasikan Penerapan Online Single Submission

Massa keemasan keramik terjadi pada 1997, hingga mampu memproduksi dalam jumlah besar dan menembus pasar Eropa. Hingga produksi mengalami penurunan saat harga bahan bakar naik, dan pabrik ditutup pada 2003. Mengenai penutupan tidak diketahui penyebabnya.

Usai penutupan pabrik warga mulai memproduksi keramik, home industri. Hingga kini, jatuh bangun usaha keramik menjadi cerita sendiri bagi warga Dinoyo.

Sedang Sulastri pemilik Denis Souvenir, mengaku saat ini penjualan keramik sedang baik, lebih-lebih pada musim hajatan seperti sekarang. Meski tidak menyebut omzetnya, namun pesanan dari dalam dan luar kota cukup banyak.

Adapun harga suvenir yang ditawarkan dari Rp 1.500 hingga puluhan ribu. Sesuai dengan permintaan. (kj5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *