KILASJATIM.COM, Surabaya – Takhta Suci dan Indonesia meresmikan perangko edisi khusus sebagai penanda 75 tahun hubungan diplomatik, dalam sebuah peluncuran resmi di Museum Vatikan, pada hari Jumat (14/11/2025).
Secretary for Relations with States and International Organizations Mgr Paul Richard Gallagher dan Secretary General of the Governorate of Vatican City State Mgr Emilio Nappa bersama Duta Besar RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono meresmikan perangko peringatan 75 tahun hubungan diplomatik RI–Vatikan di Museum Vatikan. Acara dihadiri para duta besar dari berbagai negara, pejabat Vatikan, perwakilan Museum Vatikan, serta romo, suster, dan delegasi Indonesia.
Perangko rancangan Patrizio Daniele itu menampilkan Lambang Takhta Suci dan Negara Kota Vatikan pada sisi kiri serta Garuda Pancasila pada sisi kanan. Kedua lambang dihubungkan pita merah putih dan kuning putih, dengan ilustrasi burung merpati sebagai lambang perdamaian. Dubes Trias Kuncahyono menjelaskan bahwa desain tersebut melambangkan visi bersama kedua negara mengenai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan dalam keberagaman. “Perangko ini menegaskan eratnya hubungan kedua negara yang telah terjalin sejak 1947,” terang Trias.
Dalam sambutannya, Mgr Gallagher menekankan alasan Takhta Suci mendukung kemerdekaan Indonesia, yakni penghormatan terhadap hak menentukan nasib sendiri sesuai hukum internasional. Ia menegaskan diplomasi Vatikan tidak mengejar kepentingan ekonomi atau militer, melainkan memprioritaskan perdamaian, hak asasi manusia, dan kebebasan beragama. “Diplomasi belas kasih ini memprioritaskan tindakan nyata demi kebaikan bersama,” kata Gallagher.
Gallagher juga menyebut nilai-nilai Pancasila selaras dengan misi diplomasi Vatikan, terutama mengenai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan. Ia mengutip pesan Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia tahun 2024 bahwa kerukunan dalam keberagaman menuntut setiap orang merangkul semangat persaudaraan demi kebaikan bersama. “Keseimbangan bijaksana antara keragaman dan persatuan harus terus dijaga,” ujar Gallagher.
Dubes Trias menegaskan perangko bukan sekadar alat pembayaran pos, tetapi penanda sejarah hubungan dua negara dan wahana visual nilai-nilai keberagaman, identitas nasional, serta diplomasi people-to-people. “Perangko adalah bagian dari identitas, bagian dari second track diplomacy,” katanya. Ia menyampaikan terima kasih kepada Takhta Suci atas pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia dan kerja sama diplomatik selama 75 tahun.
Sekjen Kegubernuran Vatikan Mgr Emilio Nappa, seperti dilansir dalam siaran persnya, menutup acara dengan menyampaikan apresiasi terhadap Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menilai prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan nilai persaudaraan dalam tradisi Kristiani. Menurutnya, perangko edisi khusus ini menjadi karya budaya bernilai tinggi yang menggambarkan komitmen kedua negara membangun masyarakat yang damai, adil, dan menghormati keberagaman.(tok)





