Penggunaan Nebivolol Setiap Hari Efektif Bantu Mengontrol Tekanan Darah

oleh

KILASJATIM.COM, Jakarta – Untuk meningkatkan kesadaran terkait penanganan hipertensi, Menarini Indonesia bersama dengan sebuah tim peneliti di Korea Selatan merilis hasil dari penelitian BENEFIT.

Penelitian observasional nebivolol sesuai kondisi praktik dokter sehari-hari terbesar yang pernah dilakukan terhadap 3.250 pasien hipertensi di Korea Seatan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa penggunaan nebivolol setiap hari efektif dan dapat membantu mengontrol tekanan darah dengan lebih baik.

Meningkatkan Hipertensi di Asia semakin mengkhawatirkan selain
Stroke, penyakit jantung dan penyakit ginjal memiliki faktor risiko yang sama pentingnya, yaitu – tekanan darah tinggi. Di dunia, satu dari empat orang dewasa memiliki hipertensi, dan jumlah penderita hipertensi di Asia Pasifik mencapai 65% dari total populasi dunia. Lebih dari tiga perempat kenaikan prevalensi hipertensi di Asia disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan, serta pengaruh gaya hidup yang tidak sehat.

Dr. Jinho Shin, Professor and Chief of Cardiology, Division of Cardiology, Department of Internal Medicine, Hanyang University Seoul Hospital, Seoul, Korea, penulis pertama penelitian BENEFIT mengatakan, penelitian BENEFIT ini, merupakan penelitian observasional dalam jumlah besar pada pasien di Asia, menunjukkan tolerabilitas nebivolol pada pasien dengan hipertensi dibandingkan dengan beta-blocker generasi lama.

Penelitian ingin melihat apakah obat nebivolol mempunyai kemampuan pengobatan yang sama dengan orang Eropa.

Shin yang juga penulis utama penelitian yang disebut BENEFIT (Benefit after 24 weeks of Nebivolol Administration for Essential Hypertension Patients with Various Comorbidities and Treatment Environments in Korea) menerangkan bahwa hasilnya cukup baik.

“Penelitian kami menunjukkan efektivitas nebivolol dalam mengontrol tekanan darah terlepas dari usia, jenis kelamin dan indeks masa tumbuh awal pasien,” ujar dia

Penelitian observasional ini dilakukan secara terbuka, tanpa pembanding, kontrol, prospektif dan tunggal di 66 klinik maupun rumah sakit di Korea Selatan mulai pada 1 Juli 2015 hingga 23 Maret 2017. Penelitian dilakukan sesuai dengan prinsip etis yang merujuk pada Deklarasi Helsinki.

Semua pasien yang diobservasi juga telah memberikan persetujuan tertulis sebelum menjalani prosedur apapun dalam penelitian ini. Dari total 3.250 data pasien yang dikumpulkan, 3.011 dari mereka telah menjadi sampel sampai dengan penelitian ini selesai.

Menurut Shin, efektivitas nebivolol terlihat pada pasien baru, juga pada pasien rawat inap yang mengonsumsi nebivol sebagai pengobatan tambahan ke dalam pengobatan antihipertensi yang sudah ada sebelumnya.

Efek paling besar terlihat saat nebivolol diberikan sebagai pengobatan tunggal kepada pasien baru dan sebagai obat tambahan untuk pengobatan antihipertensi, yang meliputi penghambat renin-angiotensin system (RAS Blocker), penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker–CCB), serta kombinasi antara RAS Blocker, CCB dan diuretik dalam menurunkan tekanan darah.

“Kami mengevaluasi efektivitas dan keamanan nebivolol pada pasien hipertensi di Asia sesuai kondisi praktik dokter sehari-hari pada observasi 12 minggu dan 24 minggu,” tutur Shin.

Stroke, penyakit jantung dan ginjal memiliki faktor risiko yang sama–tekanan darah tinggi. Di dunia, satu dari empat orang dewasa memiliki hipertensi, dan jumlah penderita hipertensi di Asia Pasifik mencapai 65 persen dari populasi dan penuaan, serta pengaruh gaya hidup yang tidak sehat.

WHO memperkirakan di Indonesia, persentase jumlah orang dewasa yang memiliki peningkatan tekanan darah meningkat dari 8 persen pada 1995 menjadi 32 persen pada 2008. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 memperlihatkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1 persen yang mengindikasikan adanya peningkatan penyakit kronis.

Sementara, menurut Erwinanto dari Perhimpunan Hipertensi Indonesia, penanganan hipertensi mengharuskan pasien menjalani pengobatan yang direkomendasikan, dan ini pada akhirnya akan bergantung pada efektivitas dan tolerabilitas obat yang digunakan.

“Meski nebivolol sudah terbukti efektif untuk penanganan pasien hipertensi, penelitian BENEFIT menunjukkan hasil yang sama efektifnya sebagai penelitian yang pertama kalinya dilakukan pada pasien Asia dalam jumlah besar,” ujar Erwin.

Selain itu, Erwin mengatakan, dibandingkan dengan penghambat beta (beta-blocker) generasi sebelumnya, nebivolol memiliki efek samping yang lebih baik, termasuk efek yang tidak diharapkan terkait fungsi seksual. Kedua sifat ini, yaitu tingkat efektivitas dan tolerabilitas, berperan penting agar pasien benar-benar mau mematuhi penanganan hipertensi yang dianjurkan.

“Penelitian ini dirilis pada waktu yang tepat untuk membantu para dokter menangani pasien hipertensi di Indonesia,” tutur Erwin. “Hasilnya baik dan ada prasangka bahwa sebuah obat antihipertensi itu menurunkan tekanan darah orang-orang Asia, jadi tidak ada alasan jika obat itu tidak berhasil di Indonesia. Ini menurunkan efek samping.”

Sementara Reinhard Ehrenberger, Presiden Direktur Menarini Indonesia menambahkan, lembaganya berkomitmen melayani kebutuhan pasien di Asia yang masih belum terpenuhi saat ini dan di masa depan.

“Komitmen ini mencakup identifikasi dan pengembangan solusi inovatif terkait kesehatan, sambil terus mendukung penelitian baru,” kata dia.

Dengan berbagi hasil penelitian BENEFIT ini kepada masyarakat luas, Reinhard berharap bisa membantu para dokter di Indonesia dalam melayani pasien dengan memberikan mereka akses terhadap riset dan pengetahuan terbaru. “Penelitian ini juga sejalan dengan panduan hipertensi ESC/ESH 2018 yang merekomendasikan penghambat beta dalam penanganan hipertensi.”

Sementara saat ini, meski penyebaran COVID-19 di seluruh dunia semakin marak, dengan 2,4 juta orang positif terkena virus ini dan lebih dari 165,000 kematian di dunia dan di Indonesia saat ini 6,575 orang positif terkena virus dan lebih dari 500 kematian , namun masih belum ada kejelasan terkait penyakit ini.

Penelitian awal menunjukkan pasien dengan komorbiditas dasar seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, yang bisa menyebabkan risiko kematian yang lebih tinggi akibat COVID-19 . Ini merupakan hasil dari respon inflamasi sistemik yang tinggi akibat virus COVID-19, yang bisa berujung pada serangan jantung ketika aliran darah ke jantung dibatasi karena pembekuan darah dari pecahnya plak koroner.

Namun belum ada bukti ilmiah yang mendukung peningkatan risiko infeksi COVID-19 akibat penggunaan obat antihipertensi. Oleh karena itu, penting bagi pasien hipertensi untuk melanjutkan pengobatan dengan obat antihipertensi demi menjaga kondisi mereka.

Kontrol tekanan darah lebih baik dengan Nebivolol sebagai pengobatan tunggal bagi pasien yang baru didiagnosa hipertensi dan bisa sebagai pengobatan kombinasi untuk pasien yang sudah menderita hipertensi. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *