KILASJATIM.COM, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat pelaksanaan Program Koperasi Merah Putih melalui pelatihan bagi para pendamping yang digelar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Senin (3/11/2025).
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, sebagai langkah awal memastikan program koperasi desa berjalan efektif, tepat waktu, dan berdampak nyata bagi ekonomi masyarakat.
“Para pendamping akan membantu pengurus koperasi serta kepala desa dan kelurahan agar pelaksanaan program di lapangan benar-benar efisien dan sesuai jadwal,” ujar Emil.
Dalam kesempatan itu, Emil berdialog langsung dengan peserta pelatihan untuk mendengar kendala dan masukan dari lapangan. Ia menekankan, pelatihan bukan sekadar penyamaan persepsi, tetapi juga sarana untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang praktis.
“Kadang persoalannya sederhana, tapi kalau tidak dipantau bisa berdampak panjang — misalnya soal aset, lahan tidak produktif, atau pengurus koperasi yang juga aparat desa. Semua itu harus ditata dengan bijak agar tidak menimbulkan konflik,” tegasnya.
Emil juga mengingatkan pentingnya sinergi antara pendamping, pemerintah desa, dan pemerintah daerah. “Pendamping tidak bisa bekerja sendiri. Mereka perlu dukungan kepala desa dan bupati, terutama dalam pendataan aset koperasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, menyebutkan bahwa hingga akhir tahun ini, total dana dekonsentrasi dari Kementerian Koperasi dan UKM untuk program Koperasi Merah Putih di Jawa Timur mencapai sekitar Rp60 miliar.
“Dana tersebut mencakup honor pendamping dan kegiatan pelatihan. Ada sekitar 2.132 pendamping yang masing-masing membina 8 hingga 12 koperasi di wilayahnya,” jelas Endy.
Untuk memperkuat kapasitas para pendamping, program ini juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Surabaya bisa jadi contoh baik. Di Kecamatan Jambangan, misalnya, sudah ada lebih dari 200 anggota koperasi yang aktif. Model seperti ini akan kita replikasi di daerah lain agar koperasi benar-benar menjadi penggerak ekonomi warga,” tambah Endy.
Dengan pelatihan dan dukungan lintas pihak ini, Pemprov Jatim berharap Koperasi Merah Putih mampu menjadi fondasi ekonomi kerakyatan yang lebih mandiri, transparan, dan berkelanjutan di tingkat desa. (FRI)









