NSS 2019, AGI-IKAGI Rumuskan Solusi Pergulaan Nasional  

oleh
Acara dibuka secara langsung oleh Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Kasdi Subagyono.

KILASJATIM.COM, Surabaya – Industri gula nasional menghadapi berbagai tantangan, salah satunya berkaitan dengan kuantitas dan kualitas gula. Di sisi kuantitas, produksi gula baru mencapai 2,2  juta ton atau sekitar 38% dari total kebutuhan yang mencapai 5,7 juta ton. Sedangkan di sisi kualitas, pelaku industri gula nasional dituntut melakukan perbaikan kualitas gula sehingga bisa memenuhi syarat yang dibutuhkan berbagai kalangan pengguna gula.

Hal tersebut mendasari Asosiasi Gula Indonesia (AGI) dan Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) untuk mengadakan National Sugar Summit (NSS) 2019 di Ballroom Convex Grand City, 12-13 Desember 2019. NSS 2019 ini dihadiri oleh seluruh pelaku industri gula baik BUMN maupun swasta untuk bersama-sama merumuskan solusi bagi permasalahan pergulaan. Acara dibuka secara langsung oleh Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Kasdi Subagyono.

Sesuai roadmap gula tahun 2014-2019, produksi gula diproyeksikan meningkat secara bertahap untuk bisa memenuhi semua kebutuhan gula nasional. Namun, pada tahun ini produksi gula belum ada peningkatan yang signifikan.

“Tantangan yang dihadapi industri gula kian dinamis. Kita dihadapkan pada permasalahan-permasalahan terkait pengembangan industri gula (baik di sisi on farm, off farm, maupun diversifikasi), biaya produksi, dan lain-lain. Sehingga, kita akan bersama-sama merumuskan solusi terbaik untuk setiap permasalahan tersebut,” ungkap Dwi Satriyo Annurogo, Ketua IKAGI 2019-2022.

BACA JUGA: 10 Pabrik Gula Baru Menambah Produksi Gula Nasional 3,5 Juta Ton Per Tahun

Melalui NSS 2019, para pelaku industri gula akan merumuskan solusi dengan beberapa poin penting diantaranya penyusunan kembali peta jalan pengembangan industri gula  nasional  disertai  instrumen  pendukungnya  yang  kondusif, lintas sektoral  dan  terintegrasi, terutama menyangkut aspek produksi, distribusi, kelembagaan, pendanaan dan hilirisasi.

Hal lain adalah perlu adanya kemudahan pendanaan dari perbankan, penyediaan teknologi budidaya, penyediaan pupuk dan benih tebu unggul, bantuan bongkar ratoon,  penyuluhan, perbaikan infrastuktur jalan, jembatan dan saluran irigasi untuk mendukung pengembangan tebu rakyat.

“Harapannya, seluruh pelaku industri gula saling bersinergi untuk bersama-sama memajukan industri gula nasional,” tambah Dwi.

Kegiatan serupa pernah digelar di tahun 2016. Rencananya, akan secara rutin diadakan guna menyelesaikan permasalahan industri gula nasional. (kj1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *