Memiliki Empat Orangtua Disyukuri Saja dan Alam Bukan Tempat Pelarian

oleh -1272 Dilihat

Foto: Kilas Jatim/Tqi

KILASJATIM.COM, Malang – Aminah menulis cerita Al, seusai pertemuan mereka pagi tadi, Selasa (30)/1/2024) di Alun-alun Kota Malang. Keduanya kenal dalam komunitas pecinta alam dunia maya.

Kegemaran minum kopi dan pengalaman Aminah travelling, naik gunung di masa muda membuat keduanya akrab. Saling bertukar kabar via whatsapp atau memberi komentar status masing-masing.

Pagi itu usai mengantar kedua anaknya sekolah Aminah janji bertemu Al yang bekerja sebagai kurir pengiriman (paket) barang ternama di Indonesia. Keduanya ngobrol tentang apa saja, meski Aminah merasa ia ingin bercerita sesuatu.

“Keluarga sehat Le? Lagi musim flu,” kata Amina sambil memencet sebelah hidungnya yang buntu.

“Mungkin sehat. Aku tidak tahu,” jawab pemuda 22 tahun sambil melihat kawanan burung dara yang terbang melintas di depannya.

“Lho, lha kok aneh,” Aminah melihat heran.

Berceritalah ia, sejak duduk di bangku kelas empat SD kedua orang tua nya bercerai. Setahun kemudian ibunya menikah lagi, begitu pula ayahnya. Sebenarnya ia ikut ibunya yang bekerja di toko, kadang juga pulang ke rumah ayahnya.

Seringkali kakeknya menjemput pulang sekolah. Maka ia tinggal bersama nenek dan kakek dari pihak ibu. Bersama saudara sepupunya yang lain sebab kedua orang tua mereka bekerja.

Sebab sering berpindah-pindah tinggal dari rumah ibu, ayah dan kakeknya. Maka ia memilih tinggal bersama nenek dan kakek saja. Tempat yang netral tidak saling menjelekkan satu sama lain.

Tidak berkecukupan memang. Makan seadanya, telur dadar dan mie instan. Tapi Al merasa aman, meski kedua orang tua itu sedikit kesulitan membantunya dalam belajar atau mengerjakan PR. Semua dilalui dengan senang dan sedih.

Pemuda hitam manis ini, tak memiliki saudara. Banyak hal tak bisa diceritakan pada keluarga. Juga ketika naksir perempuan, ia tak bisa mengungkapkan. Takut ditolak katanya, atau kalau sudah jadian takut putus cinta.

“Saya itu siap tidak siap pacaran. Tapi takut terlanjur suka bagaimana. Makanya saya alihkan perhatian buat naik gunung atau jalan-jalan ke alam saja,” katanya.

“Cinta itu anugrah, kalau masih ada rasa berarti kamu sehat. Soal putus ditengah jalan ya biasa. Gak usah serius banget, kamu masih muda. Penting olah rasa, belajar menerima kalah-menang. Anggap saja hiburan,” ibu dia anak itu menghibur.

Keduanya diam melihat sekelompok orang lari-lari mengikuti jalur yang disediakan. Petugas kebersihan menyapu rerumputan atau balita yang menebar biji jagung untuk disantap kawanan burung.

“Sampean tidak tahu rasanya punya empat orangtua? ”

“Lho malah enak, uang sakumu dua kali lipat dari anak umumnya, ”

“Ngawur.”

“Lho kalau saya mau ke Bromo pamit ayah dapat sangu, pamit ibu juga dapat sangu. Enak kan, kurang apa sih hidupmu,” ujarnya.

“Aku pengen seperti yang lain. Sampean bisa ngopi bareng mas, Bulan-Jingga. Sampean pikir aku gak pengen punya keluarga yang asik, meski aku tahu biasane bayar kopi urunan,” katanya.

Spontan tawa Aminah pecah, sebab ada orang yang mengamati ia dan anaknya urunan bayar kopi saat cangkruk an. Perempuan itu menjelaskan jika ia sedang tidak memiliki cukup uang, sedang anaknya ingin ngopi diluar. Jadilah urunan, hal yang lumrah di keluarganya.

“Mangkanya jangan sombong. Kalau tak bayari harus diterima. Lihat orang rukun saja aku seneng. Bisa ngobrol dengan mbak saja senang, ada yang mau mendengar ceritaku,” lanjut pemuda itu sambil menepuk pundak perempuan disampingnya.

Sambil melanjutkan curhatnya, jika ia sedang naksir anak Pak RT yang masih duduk di bangku SMK kelas akhir. Namun ia tidak berani mengungkapkan perasaan, takut ditolak dan tidak disetujui keluarga si gadis.

Soal si gadis memiliki rasa yang sama atau tidak. Al tidak tahu, yang pasti perempuan itu baik, suka menyapa dan tidak sombong di kampung.

“Yakinlah Al, kamu orang baik, ganteng, sehat, tidak pengangguran. Pasti ia mau sama kamu. Tinggal bagaimana caramu menyampaikan. Diterima alhamdulillah, ditolak cari yang lain. Sebelum diambil orang. Kalau sudah rezeki pasti ketemu,” urainya.

Keduanya tertawa, sampai seorang tukang sapu meminta izin, agar minggir ketempat lain. Sebab ia akan membersihkan batu berundak, tempat duduk dua kawan beda generasi berbagi cerita pagi. (tqi)

No More Posts Available.

No more pages to load.